Surat Terbuka buat Triyanto Triwikromo
Kategori: Budaya, Cerpen, Refleksi, Sastra, Tradisi
Aku tahu, saat ini Sampeyan sedang dililit banyak kesibukan. Waktu menjadi demikian berharga buatmu. Setiap menit, bahkan detik, bahkan juga setiap tarikan napas, selalu berharga untuk mengekspresikan imaji-imaji liar yang menumpuk di kepala. Aku selalu mendengar suara “pemberontakan”-mu sebagaimana tercermin dalam teks-teks cerpenmu. Ada nuansa romantisme, cinta, teror, darah, kebencian, perempuan, warna lokal, mitos, dan juga tradisi. Yang selalu kuingat dari cerpen-cerpenmu adalah suasana absurdisme yang meneror, untuk selanjutnya membawa imaji pembaca ke dalam sebuah ruang tafsir yang rumit, kompleks, tetapi sekaligus membawa daya kejut. Triyanto –kalau boleh aku menyapamu demikian sebagaimana nama yang diberikan oleh kedua... (Baca lanjutannya!)
“Perceraian” antara Budaya dan Pendidikan: Tanya Kenapa?
Saat-saat akhir menjelang tumbangnya rezim Orde Baru dari “panggung” kekuasaan, Soeharto pernah merombak kabinet. Bisa jadi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dan tekanan publik yang gencar menuntutnya untuk segera “lengser keprabon”. 21 Mei 1998, penguasa Orba yang dijuluki CNN sebagai “Indonesia’s Iron Ruler” (penguasa bertangan besi Indonesia) itu membuat manuver dengan “menceraikan” kebudayaan dari dunia pendidikan. Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya pun terbentuk. Bisa jadi juga sebagai imbas dari kebijakannya yang telah mencanangkan tahun 1998 sebagai Tahun Seni dan Budaya. Agaknya kebijakan penguasa Orba itu terus berlanjut hingga negeri ini mengalami beberapa kali suksesi.... (Baca lanjutannya!)













