Home | Opini | Guru Menulis BTP: Kenapa Tidak?

Guru Menulis BTP: Kenapa Tidak?

Friday, 22 February 2008 (11:36) | 596 pembaca | 25 komentar | Print this Article

Kamis, 21 Februari 2008 yang lalu, Pusat Perbukuan, Depdiknas, menggelar sosialisasi Instrumen dan Deskripsi Penilaian Buku Teks Pelajaran (BTP) SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Semarang, Jawa Tengah. Acara tersebut dihadiri kurang lebih 150 peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa, dosen, widyaiswara, wartawan, penerbit, dan guru. Menurut Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons., anggota BSNP, sosialisasi tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam rangka memenuhi ketersediaan buku teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan. Oleh karena itu, tegasnya, BSNP dan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional dalam tahun anggaran 2008 akan menyelenggarakan Penilaian Buku Teks Pelajaran untuk SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK.

Penilaian akan dilaksanakan dalam dua periode. Pada periode I akan dinilai 16 buku teks pelajaran, yakni: Bahasa Indonesia (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK), Matematika (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK), IPA (SD/MI, SMP/MTs), IPS (SD/MI, SMP/MTs), Pendidikan Kewarganegaraan (SD/MI), Bahasa Inggris (SMP/MTs, SMA/MA, SMK). Pada Periode II akan dinilai 5 buku teks pelajaran, yakni: Pendidikan Seni Musik (SD/MI, SMP/MTs), Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (SD/MI, SMP/MTs), Teknologi, Informasi dan Komunikasi (SMP/MTs). Penulis dan/atau penerbit yang berminat mengajukan bukunya untuk dinilai kelayakannya, dapat mendaftarkan buku teks pelajarannya ke Pusat Perbukuan Depdiknas.

Yang menarik, Pusbuk “menantang” para guru untuk menjadi penulisnya. “Tantangan” ini perlu disambut gembira oleh rekan-rekan sejawat guru. Kenapa? Disadari atau tidak, penulisan buku dan distribusinya selama ini dikenal ruwet, rumit, dan kompleks. Apalagi, ketika Balai Pustaka (BP) dengan segala “otoritas kekuasaannya” menjadi “kaisar” dalam dunia perbukuan Indonesia. Praktis, hanya penulis yang mau dan bisa “berselingkuh” dengan penerbit saja yang bisa “menikmati” dua dunia; guru sekaligus penulis BTP.

Kini, “bola” itu sudah dilemparkan kepada para “guru”. Haruskah didiamkan? Atau sebaliknya, sigap menyambut lemparan itu dengan gerakan-gerakan atraktif dan “teatrikal” sehingga mampu memberikan umpan yang jitu kepada “pemain” lain atau memasukkannya sendiri sehingga tercipta sebuah gol yang indah dan menawan. *Halah, seperti main sepak bola saja, hehehehe :lol: * Jika berhasil dan dinyatakan memenuhi syarat kelayakan, naskah BTP tersebut akan dibeli hak ciptanya oleh Pusbuk dengan nilai antara 100 juta-175 juta rupiah perjilid buku.

info.gif

Sayangnya, info penting dan berharga dari Pusbuk itu bisa dibilang terlambat disosialisasikan kepada para guru. Deadline pendaftaran buku periode I tanggal 13-16 Mei 2008. Ini artinya, para guru hanya mempunyai waktu efektif untuk menyusun naskah, ilustrasi, layout, editing, hingga membuat dummy (naskah buku siap cetak) sekitar 2,5 bulan. Waktu yang amat pendek untuk mempersiapkan naskah BTP yang memiliki tingkat kelayakan dan kualitas andal. Selain itu, guru yang hendak menulis BTP juga harus “menggandeng” dosen atau ahli bidang studi terkait. Sebuah kerja kolektif yang gampang-gampang susah.

Meski demikian, terobosan Pusbuk mesti diakui sebagai langkah “cantik” untuk lebih mendekatkan guru kepada BTP yang selama ini hanya didominasi oleh penulis BTP yang sudah lama “berselingkuh” dengan penerbit. Ironis memang. Guru yang sangat paham terhadap apa yang dibutuhkan oleh siswanya, justru harus menggunakan BTP dengan tingkat kelayakan isi, penyajian, bahasa, dan kegrafikaan, yang jauh dari memadai. Namun, apa boleh buat! Kini, peluang itu terbuka lebar bagi rekan-rekan sejawat untuk ikut memberikan sumbangsih pemikirannya melalui BTP yang “inspiratif” dan kreatif sehingga “enak dibaca dan perlu” *halah seperti iklan koran saja* bagi generasi masa depan negeri ini. Nah, bagaimana? Sampeyan tertarik?

Rekan-rekan sejawat yang membutuhkan informasi lebih lanjut tentang instrumen dan deskripsi penilaian BTP, silakan unduh file.zip-nya (kapasitas file 3,4 MB) di sini. (Terima kasih saya ucapkan kepada Pak Slamet, widyaiswara LPMP Semarang, Jateng, yang telah berkenan berbagi file secara gratis. Semoga bisa bermanfaat bagi rekan-rekan sejawat guru. ***

Kategori: Opini | Tags: , , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgKetika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh (Wednesday, 1 September 2010, 282 pembaca, 34 respon) Dalang: Sawali Tuhusetya Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang...
imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgKastanisasi dan Elitisme di Balik Sekolah RSBI (Wednesday, 9 June 2010, 737 pembaca, 97 respon) Baru-baru ini, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen), Kemendiknas, Suyanto mengungkapkan, 18 sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dicabut izinnya karena dinilai tidak memenuhi persyaratan pendirian....
imgPenafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna (Saturday, 22 May 2010, 560 pembaca, 106 respon) Dalam sebuah rapat kabinet yang gerah, wajah Rahwana memerah seperti kepiting rebus. Sorot matanya liar memerah saga. Tiupan angin yang lembut dari moncong AC yang dingin pun gagal menaklukkan hati penguasa Alengka yang tengah murka itu. Berulang-ulang...
imgMembangun Karakter Bangsa melalui Festival dan Lomba Seni (Thursday, 29 April 2010, 756 pembaca, 47 respon) Tanggal 26-28 April 2010, saya bersama beberapa rekan sejawat didaulat untuk menjadi juri dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa SD Tingkat Prov. Jawa Tengah Tahun 2010 di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. Dalam pandangan awam saya, festival dan lomba...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Guru Menulis BTP: Kenapa Tidak?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Friday, 22 February 2008 (11:36)) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

25 Responses to "Guru Menulis BTP: Kenapa Tidak?"

  1. Sarastiono says:
    Menggunakan Firefox 3.5.8 Firefox 3.5.8 pada Windows XP Windows XP

    Hidup….para guru…..
    Dengan kerja keras akhirnya buku selesai juga….
    ngomong- ngomong udah ada khabar pemenangnya ?:-w

  2. Sarastiono says:
    Menggunakan Firefox 3.5.8 Firefox 3.5.8 pada Windows XP Windows XP

    Hidup….para guru…..
    Dengan kerja keras akhirnya buku selesai juga….
    ngomong- ngomong udah ada khabar pemenangnya ?

  3. Gictdiuri says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    I think you made some good points in your post.

  4. Unknown Unknown

    Cheap 37 5 phentermine….

    Cheap … phentermine cod url. Phentermine without an rx cheap prices. Cheap phentermine free shipping. Cheap phentermine diet pill….

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (97 queries: 0.990 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP