Rabu, 23 April 2014

Monday, 11 February 2008 (19:14) | Budaya | 16209 pembaca | 40 komentar

Budaya

Oleh: Sawali Tuhusetya

Aku tahu, saat ini Sampeyan sedang dililit banyak kesibukan. Waktu menjadi demikian berharga buatmu. Setiap menit, bahkan detik, bahkan juga setiap tarikan napas, selalu berharga untuk mengekspresikan imaji-imaji liar yang menumpuk di kepala. Aku selalu mendengar suara “pemberontakan”-mu sebagaimana tercermin dalam teks-teks cerpenmu. Ada nuansa romantisme, cinta, teror, darah, kebencian, perempuan, warna lokal, mitos, dan juga tradisi. Yang selalu kuingat dari cerpen-cerpenmu adalah suasana absurdisme yang meneror, untuk selanjutnya membawa imaji pembaca ke dalam sebuah ruang tafsir yang rumit, kompleks, tetapi sekaligus membawa daya kejut.

Triyanto –kalau boleh aku menyapamu demikian sebagaimana nama yang diberikan oleh kedua orang tuamu– yang baik. Entah, sudah berapa tahun kita tak bertemu. Pertemuan terakhir pun aku sudah lupa di mana. Yang sempat kuingat ketika Sampeyan menjadi moderator diskusi dalam Pertemuan Sastrawan Jawa Tengah di Purwokerto, Jawa Tengah, sekitar tahun 2000-an. Setelah itu, kita hanya bisa kontak lewat SMS. Itu pun sekarang sudah jarang kita lakukan. Ya, sudah, kita memang telah ditakdirkan untuk mengikuti “jalan hidup” yang telah disuratkan oleh-Nya. Sampeyan menjadi seorang jurnalis dan sastrawan yang telah mengglobal, sedangkan aku menekuni duniaku sebagai seorang guru, hanya ingin menjadi seorang shi fu, meski terkesan ndesa dan katrok. *halah*

Bukannya aku menyesal menjadi seorang guru. Justru aku merasa bahagia dan sangat menikmatinya. Yup, ini juga sekaligus memenuhi “panggilan hidup” sebagaimana yang selalu disuarakan oleh Emakku ketika aku masih kecil. Emakku akan merasa amat berbahagia seandainya aku bisa menjadi seorang guru. Alhamdulillah, aku sudah memenuhi amanat emakku yang kini sangat menikmati hidup di sebuah kampung yang sunyi menjelang masa-masa senjanya.

Triyanto yang baik. Entah, tiba-tiba saja aku merasa cengeng. Romantisme masa lalu tiba-tiba saja mengusik perasaanku. Aku kangen sekali untuk bisa bertemu denganmu. Apalagi, tanpa kuduga, kamu meninggalkan jejak komentar di sini. Sungguh, komentarmu membuat perasaanku seperti mendengarkan terompet orkestra yang berirama pedih. Menyayat-nyayat. Teringat saat kita masih bersama-sama menimba ilmu di sebuah lembaga keguruan. Mungkin Sampeyan sudah lupa, kalau kita pernah menggelandang di kompleks Mberok Semarang yang kumuh, bercengkerama dengan para “wadam” hingga akhirnya kita terusir setelah mereka gagal mengajak kita berkencan. Kita pun lari terbirit-birit hingga akhirnya terdampar di Pasar Johar. Karena capek, kita pun terlelap di atas box reot yang biasa dipakai para pedagang berjualan. Ketika Subuh tiba, kita pun sempat terkejut, lantaran sandal kulit usang yang kita pakai, diembat juga para pencoleng Pasar Johar yang sering berkeliaran seperti nyamuk-nyamuk liar yang menyedot darah kita semalaman.

Pernah juga kita bersama-sama dengan Mas S. Prasetyo Utomo dan Herlino Soleman menikmati malam di Bumi Wanamukti, Semarang, tempat Mas Mahmud Hidayat tinggal selama ini. Malam itu juga kita dikejutkan oleh suara-suara teriakan orang-orang kampung yang hendak menangkap seorang pencuri. Kita pun bersama-sama berhamburan keluar. Lantas, bikin sayembara untuk mengabadikan peristiwa itu menjadi sebuah cerpen. Ternyata, Sampeyan memang hebat. Dari peristiwa itu, Sampeyan berhasil membikin sebuah cerpen berdaya kejut tinggi “Ritus Tikus”. Masih ingatkah Sampeyan pada peristiwa itu? Lantas, pada malam yang berbeda, kita sering menghabiskan waktu untuk berdiskusi, bahkan berdebat, soal genre sastra dan filsafat. Topik yang selalu berat yang Sampeyan tawarkan.

Tak lama kemudian, nama Sampeyan sering tertulis di koran lengkap dengan cerpen-cerpen bergaya surealis dan absurd itu. Sampeyan pun dipercaya untuk menjadi penjaga gawang tetap “analisis puisi mingguan” di harian sore Wawasan. Namun, tak lama kemudian, aku tak tahu lagi kabar Sampeyan. Beberapa teman bilang, Sampeyan sedang “hiatus” dan melakukan “metamorfosis”. Bertahun-tahun peristiwa itu berlalu hingga akhirnya nama Sampeyan mulai melejit sebagai cerpenis papan atas dengan semakin banyaknya cerpen-cerpen Sampeyan yang khas itu muncul di Kompas. Tak lama kemudian, aku mendengar kabar bahwa Sampeyan telah memiliki sebuah antologi cerpen Rezim Seks dan dipercaya menjadi redaktur Sastra-Budaya di harian Suara Merdeka. Bahkan, Sampeyan juga mulai intens berkomunikasi dengan sobat Herlino Soleman hingga akhirnya berhasil menerbitkan kumpulan cerpen bersama Pintu Tertutup Salju. Buku itu pula yang berhasil membawa kita duduk satu meja dalam forum diskusi dan bedah buku yang digelar oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Kendal.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita juga sempat bertemu dalam forum Temu Sastrawan Jawa Tengah di Purwokerto bersama Kang Ahmad Tohari, S. Prasetyo Utomo, Gunoto Sapari, SN Ratmana, ES Wibowo, Timur SS, dll. Nah, sejak saat itu, nama Sampeyan makin melambung hingga menembus batas dan sekat-sekat geografis. Aku mendengar kabar, Sampeyan sering mengadakan lawatan sastra ke luar negeri. Syukurlah, aku jadi ikut senang dan bangga. Tak lama kemudian, muncullah buku-buku kumpulan cerpen Sampeyan berikutnya, semacam Ragaula, The Wings of the Dog, Malam sepasang lampion, atau Children Sharpening the Knives. Sejak saat itu pula, aku merasa semakin sulit berkomunikasi dengan Sampeyan. Ketika berlangsung acara Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kudus (19-21 Januari 2008) yang lalu, aku berharap Sampeyan bisa hadir. Ingin rasanya segera melepas kangen setelah sekian tahun tak bertemu. Namun, ternyata Sampeyan sedang mengikuti acara Residensi Sastra di Sydney Australia. Ketika di Kudus, aku pun sempat bertemu dengan Maman S. Mahayana dan sempat ngobrol di warung kopi hingga larut malam di bawah guyuran hujan yang membadai. Banyak hal yang kami obrolkan, termasuk “ngrasani” Sampeyan .

Lebih membanggakan lagi ketika aku membuka website Penakencana. Ternyata, Sampeyan juga yang menjadi Direktur Program Anugerah Sastra Pena Kencana yang heboh itu. Betapa tidak! Sampeyan telah berkiprah secara nyata hadir untuk memangkas jalur yang terlalu lama dan ingin lebih memartabatkan sastrawan.

Karena itu selain setahun sekali memberikan penghargaan tertinggi untuk satu puisi dan cerpen terbaik, juga meningkatkan jumlah hadiah. Untuk 2008, puisi dan cerpen terbaik, masing-masing Rp 50 juta. Nilai penghargaan itu diharapkan dari tahun ke tahun meningkat.

Itu kata Sampeyan dalam sebuah pengantar yang sempat aku baca. Luar biasa! Sebuah penghargaan yang bisa menjadi sebuah Indonesia yang I dalam menghidupkan martabat sastrawan. Aku percaya, masih ada kiprah-kiprah Sampeyan yang lain yang luput dari perhatian awamku sehingga tak terjamah dalam surat ini.

Triyanto yang baik. Untuk sementara, demikian surat terbuka yang sengaja aku tulis sebagai wujud apresiasi dan simpati dari seorang teman lama sekaligus sebagai ekspresi rasa kangen dalam menjelajahi romantisme masa silam yang pernah kita lalui bersama. Semoga Sampeyan masih sempat punya waktu dan berkenan untuk membaca surat cengeng ini. Mohon maaf apabila kehadiran surat ini sudah mengusik ketenanganmu.

Terima kasih.

Selamat berjuang dan salam kreatif, kawan.

Dari seorang teman lama,

Sawali Tuhusetya

oOo

Catatan:

Yang ingin membaca cerpen-cerpen Triyanto Triwikromo, silakan klik di sini.

Tulisan berjudul "Surat Terbuka buat Triyanto Triwikromo" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (11 February 2008 @ 19:14) pada kategori Budaya. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Menuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 39277 pembaca, 75 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi...

Temu Sastrawan Jawa Tengah 2010 dan Balsem Gosok (Saturday, 19 June 2010, 22170 pembaca, 114 respon) Sabtu, 19 Juni 2010, Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) menggelar sebuah perhelatan bertajuk “Temu Sastrawan Jawa Tengah 2010” di Pusat Kesenian...

Perubahan Paradigma Pendidikan (Sunday, 14 September 2008, 34471 pembaca, 15 respon) SEIRING dengan perubahan dan dinamika masyarakat yang terus bergerak menuju arus globalisasi, problem dan tantangan yang harus dihadapi oleh dunia...

Sastra Kita Miskin Pemberontakan? (Saturday, 26 July 2008, 20387 pembaca, 35 respon) Sekitar tahun 1983, Budi Darma pernah menyatakan, jika Anda belum dikenal sebagai sastrawan, cobalah memberontak. Katakan sastra hasil karya para...

Menjadikan Sekolah sebagai Basis Pengembangan Bahasa Indonesia (2-Habis) (Friday, 18 July 2008, 33150 pembaca, 49 respon) Diakui atau tidak, kesan bahwa sekolah baru sebatas menjalankan fungsinya sebagai tempat mentrasfer ilmu secara kognitif masih kuat melekat dalam...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

40 komentar pada "Surat Terbuka buat Triyanto Triwikromo"

  1. danalingga says:

    Wah, teman yang luar biasa . Dan yang punya teman luar biasa pasti luar biasa jugak. :mrgreen:

    danalingga’s last blog post..Mari Memanfaatkan Komentar !!!

    oOo
    betul, mas dana. Triyanto memang luar biasa. walah, kalau aku sih bisanya cuman nebeng ketenaran teman saja, mas, hehehehe :lol:

  2. edy says:

    diajak ngeblog aja, pak :)

    edy’s last blog post..Bila Microsoft Membeli Yahoo!

    oOo
    walah, kalau dia udah apakek website. malah dah ada yang mbuatin bung, hehehehe :lol:

  3. ridu says:

    kok last blog post ridu masih survey tawa jakarta yak??

    ridu’s last blog post..Survey Tawa Warga Jakarta

    oOo
    walah, itu juga ndak tahu saya mas ridu. apa rada error yak pluginnya? tapi temen yang lain ndak tuh?

  4. ridu says:

    duuh.. suratnya bagus banget.. itu dikirim ke orangnya juga kan?? hmm.. ridu jadi takut kalo mo minjem duit ke pak sawali deh..takutnya surat penagihannya dipublish di blog lagi! :mrgreen:

    ridu’s last blog post..Survey Tawa Warga Jakarta

    oOo
    walah, hanya surat cengeng kok mas ridu. yup, triyanto dah saya beri tembusan dengan tulisan yang sama. mudah2an ada waktu dia utk membacanya. wakakakakaka … emang mas ridu butuh utang berapa duwit, hehehehehe :lol: ntar saya umumin di blog ini dg tulisan besar2, kekekekekeke ….

  5. Goop says:

    :mrgreen:
    wah pak sawali kangen sama bapak2 kekeke
    __________________________________________
    btw, masa mudanya pak sawali serem juga yak
    dikejar2 wadam, terus nyangkut di pasar sgala
    tsk…tsk…
    haibat lha :grin:

    Goop’s last blog post..Engine

    oOo
    walah, teringat kenangan lama, mas goop. wakakakakaka … semarang memang gudangnya dunia malam, mas goop, hehehehe :lol: mas goop mau sesekali menggelandang di semarang? biar tahu rasanya dikejar2, hehehehe :mrgreen:

Leave a Reply