<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: &#8220;Perang Sastra&#8221; Terus Berlanjut?</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 13:12:04 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/comment-page-1/#comment-12069</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 11:31:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/#comment-12069</guid>
		<description>begitulah yang terjadi, mas love.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>begitulah yang terjadi, mas love.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/comment-page-1/#comment-12067</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 11:27:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/#comment-12067</guid>
		<description>makasih banget esainya yang sangat menarik ini, mas beny. salam budaya!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>makasih banget esainya yang sangat menarik ini, mas beny. salam budaya!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: lovepassword</title>
		<link>http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/comment-page-1/#comment-12028</link>
		<dc:creator>lovepassword</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 08:31:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/#comment-12028</guid>
		<description>:d Bahkan dalam sastrapun ada perang juga. Hi Hi Hi. Nafsu berkelahi manusia agaknya memang selalu ada di semua ruang dan semua waktu. :-?

&lt;abbr&gt;&lt;em&gt;Baca juga tulisan terbaru lovepassword berjudul &lt;a href="http://lovepassword.blogspot.com/2008/10/lupa-password-winforcer.html"&gt;Lupa Password Winforce(r)&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/abbr&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>:d Bahkan dalam sastrapun ada perang juga. Hi Hi Hi. Nafsu berkelahi manusia agaknya memang selalu ada di semua ruang dan semua waktu. <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':-?' class='wp-smiley' /><br />
<abbr><em>Baca juga tulisan terbaru lovepassword berjudul <a href="http://lovepassword.blogspot.com/2008/10/lupa-password-winforcer.html">Lupa Password Winforce(r)</a></em></abbr></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: benny hidayat</title>
		<link>http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/comment-page-1/#comment-12026</link>
		<dc:creator>benny hidayat</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 08:20:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/#comment-12026</guid>
		<description>Matinya sebuah bangsa  
 

www.duniasastra.com

Kulihat bangsaku perlahan telah mati nuraninya, karena lapar saling menyikut dan menindas...siapa cepat dan kuat dialah pemenangnya...

Aku tertegun dan terpana semua ingin diraih, tak pernah ada kata puas....seakan yang hidup bergabung dengan yang mati demi sebuah ambisi.

Aku menyaksikan wajah-wajah yang tak kenal rasa malu, yang menutupi matanya dengan debu-debu emas yang memantulkan gemerlap cahaya teplok- airmata derita .

Kulihat pula derai tawa - tak berdosa sembunyikan tangis bayi dari bilik kardus bawah kolong jembatan; suara tangisan yang mengharap susu manis dari kedua tetek kering ibunya, tarikan nafas kegetiran yang menanti matangnya bebatuan didalam kuali ; serta Jeritan nafas kemiskinan yang membuat seorang ibu tega meletakkan anaknya dalam kardus- tepi sungai.

Tak ada bedanya aku, kamu dan mereka...karena nuranilah kita berbeda- karena kejujuranlah kita jadi mulia. sadarkah engkau bahwa orang mulia sekalipun-tak jarang dari mereka adalah keturunan darah penjahat !.
Aku muak dengan kapitalis karena ia merupakan raksasa tak berkaki serta berotak anak ayam, jelmaan lintah yang tak pernah kenyang. Aku; kamu; dan mereka semua; bayi-bayi ini, serta para pewaris bangsa...mereka adalah para pewaris yang terpasung dan terkekang, karena kemiskinan telah merantai tangan-tangan dan tubuh mereka dalam belenggu kebodohan.

Aku bukanlah seorang provokator, atau anarkis bukan pula komunis, aku mengajarkan kepada mereka tentang Tuhan, dan ketika mereka marah meradang , aku redam mereka dengan akal dan nurani, Aku seorang motivator , sekaligus orang yang terpasung, roda-roda kehidupan kudapati berlawanan arah denganku, ia melindas dengan angkuh setiap benih yang kutanam dan hendak bertunas.

Dan aku melihat disana, dibalik tumpukan sampah ada budak sedang tertidur , aku tak ingin membangunkan dia kalau-kalau ia sedang memimpikan “kebebasan.”

Bila ia telah terbangun akan aku jelaskan tentang arti kebebasan kepadanya.

Tapi aku juga mencintai para budak itu, seperti cintaku pada kebebasan, sebab mereka mengecup dengan mata tertutup taring binatang buas dalam hening ketidaktahuan, tanpa tahu senyum maut yang menunggu, dan tak pernah menyadari, sedang menggali kuburan dengan tangan mereka sendiri.

kehidupan berbangsa laksana sebuah kursi singgasana, bila rusak atau patah sebagian maka pincanglah sebuah bangsa.

Dan Matilah sebuah bangsa bila hukum dapat dibeli dengan uang, serta para pemikirnya membiarkan kebohongan sedangkan ia mengetahuinya -kemudian karena sesuatu hal ia hanya diam terpaku , lalu menyerah dalam kubangan belenggu yang bernama kekuasaan.

  

Hartono Beny Hidayat In Elaboration with KG</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Matinya sebuah bangsa  </p>
<p><a href="http://www.duniasastra.com" rel="nofollow">http://www.duniasastra.com</a></p>
<p>Kulihat bangsaku perlahan telah mati nuraninya, karena lapar saling menyikut dan menindas&#8230;siapa cepat dan kuat dialah pemenangnya&#8230;</p>
<p>Aku tertegun dan terpana semua ingin diraih, tak pernah ada kata puas&#8230;.seakan yang hidup bergabung dengan yang mati demi sebuah ambisi.</p>
<p>Aku menyaksikan wajah-wajah yang tak kenal rasa malu, yang menutupi matanya dengan debu-debu emas yang memantulkan gemerlap cahaya teplok- airmata derita .</p>
<p>Kulihat pula derai tawa - tak berdosa sembunyikan tangis bayi dari bilik kardus bawah kolong jembatan; suara tangisan yang mengharap susu manis dari kedua tetek kering ibunya, tarikan nafas kegetiran yang menanti matangnya bebatuan didalam kuali ; serta Jeritan nafas kemiskinan yang membuat seorang ibu tega meletakkan anaknya dalam kardus- tepi sungai.</p>
<p>Tak ada bedanya aku, kamu dan mereka&#8230;karena nuranilah kita berbeda- karena kejujuranlah kita jadi mulia. sadarkah engkau bahwa orang mulia sekalipun-tak jarang dari mereka adalah keturunan darah penjahat !.<br />
Aku muak dengan kapitalis karena ia merupakan raksasa tak berkaki serta berotak anak ayam, jelmaan lintah yang tak pernah kenyang. Aku; kamu; dan mereka semua; bayi-bayi ini, serta para pewaris bangsa&#8230;mereka adalah para pewaris yang terpasung dan terkekang, karena kemiskinan telah merantai tangan-tangan dan tubuh mereka dalam belenggu kebodohan.</p>
<p>Aku bukanlah seorang provokator, atau anarkis bukan pula komunis, aku mengajarkan kepada mereka tentang Tuhan, dan ketika mereka marah meradang , aku redam mereka dengan akal dan nurani, Aku seorang motivator , sekaligus orang yang terpasung, roda-roda kehidupan kudapati berlawanan arah denganku, ia melindas dengan angkuh setiap benih yang kutanam dan hendak bertunas.</p>
<p>Dan aku melihat disana, dibalik tumpukan sampah ada budak sedang tertidur , aku tak ingin membangunkan dia kalau-kalau ia sedang memimpikan “kebebasan.”</p>
<p>Bila ia telah terbangun akan aku jelaskan tentang arti kebebasan kepadanya.</p>
<p>Tapi aku juga mencintai para budak itu, seperti cintaku pada kebebasan, sebab mereka mengecup dengan mata tertutup taring binatang buas dalam hening ketidaktahuan, tanpa tahu senyum maut yang menunggu, dan tak pernah menyadari, sedang menggali kuburan dengan tangan mereka sendiri.</p>
<p>kehidupan berbangsa laksana sebuah kursi singgasana, bila rusak atau patah sebagian maka pincanglah sebuah bangsa.</p>
<p>Dan Matilah sebuah bangsa bila hukum dapat dibeli dengan uang, serta para pemikirnya membiarkan kebohongan sedangkan ia mengetahuinya -kemudian karena sesuatu hal ia hanya diam terpaku , lalu menyerah dalam kubangan belenggu yang bernama kekuasaan.</p>
<p>Hartono Beny Hidayat In Elaboration with KG</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tomy</title>
		<link>http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/comment-page-1/#comment-2258</link>
		<dc:creator>tomy</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2008 04:42:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/#comment-2258</guid>
		<description>seni seperti juga sastra adalah 'peluru berbalut madu' ketika ketinggian ilmu kedalaman pengetahuan hanyalah sebuah kedok bagi 'kepentingan' :evil: 

saya setuju dengan imbauan Pak Guru untuk merangkul rakyat membangun peradaban yang santun, beradab, berbudaya, dan bermartabat lewat karya sastra
dan yang penting adalah pembebasan &#38; pemerdekaan manusia lewat pengkajian jati diri manusia, dalam bahasa-bahasa sastra yang liar, mencengangkan :twisted:

&lt;em&gt;tomy's last blog post..&lt;a href='http://tomyarjunanto.wordpress.com/2008/02/01/orang-muda-siapkan-dirimu/' rel="nofollow"&gt;Orang Muda, siapkan dirimu..!!&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
yup, makasih pak tomy. daripada berdebat kan lebih baik melahirkan teks sastra yang menjadikan rakyat sebagai subjek.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>seni seperti juga sastra adalah &#8216;peluru berbalut madu&#8217; ketika ketinggian ilmu kedalaman pengetahuan hanyalah sebuah kedok bagi &#8216;kepentingan&#8217; <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_evil.gif' alt=':evil:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>saya setuju dengan imbauan Pak Guru untuk merangkul rakyat membangun peradaban yang santun, beradab, berbudaya, dan bermartabat lewat karya sastra<br />
dan yang penting adalah pembebasan &amp; pemerdekaan manusia lewat pengkajian jati diri manusia, dalam bahasa-bahasa sastra yang liar, mencengangkan <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_twisted.gif' alt=':twisted:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>tomy&#8217;s last blog post..<a href='http://tomyarjunanto.wordpress.com/2008/02/01/orang-muda-siapkan-dirimu/' rel="nofollow">Orang Muda, siapkan dirimu..!!</a></em></p>
<p>ooo<br />
yup, makasih pak tomy. daripada berdebat kan lebih baik melahirkan teks sastra yang menjadikan rakyat sebagai subjek.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kombor</title>
		<link>http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/comment-page-1/#comment-2009</link>
		<dc:creator>Kombor</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 09:01:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/#comment-2009</guid>
		<description>Sampeyan ikut kubu yang mana, Pak?

&lt;em&gt;Kombor's last blog post..&lt;a href='http://kombor.com/2008/02/03/kurang-54-dolar-lagi/' rel="nofollow"&gt;Kurang 5,4 Dolar Lagi&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

oOo
walah, aku ndak ikut ke mana-mana kok mas arief. kubu2an semacam itu seringkali justru menjadi belenggu utk menciptakan teks2 yang lebih bebas dan merdeka. kalau masuk ke kubu tertentu, seringkali napas teks sastranya mesti mengikuti alur dan gaya aliran yang dianutnya. jadi, ndak bisa bebas lagi, kan? hehehehehehe :lol:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sampeyan ikut kubu yang mana, Pak?</p>
<p><em>Kombor&#8217;s last blog post..<a href='http://kombor.com/2008/02/03/kurang-54-dolar-lagi/' rel="nofollow">Kurang 5,4 Dolar Lagi</a></em></p>
<p>oOo<br />
walah, aku ndak ikut ke mana-mana kok mas arief. kubu2an semacam itu seringkali justru menjadi belenggu utk menciptakan teks2 yang lebih bebas dan merdeka. kalau masuk ke kubu tertentu, seringkali napas teks sastranya mesti mengikuti alur dan gaya aliran yang dianutnya. jadi, ndak bisa bebas lagi, kan? hehehehehehe <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: fertob</title>
		<link>http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/comment-page-1/#comment-1994</link>
		<dc:creator>fertob</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 18:48:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/#comment-1994</guid>
		<description>Yup, ini salah satu jenis perang yang menurut saya malah kontraproduktif terhadap tujuan dari sastra itu sendiri. Dan selalu saja terbentuk kubu-kubu yang saling berlawanan dan mengedepankan perbedaan sebagai pembatas antara "sastra sini" dan "sastra sono".

Saya salah satu penggemar karya GG Marquez, karena karya-karya selalu mendobrak suatu kebobrokan sosial yang ada di masyarakat, khususnya di Amerika Latin. Sastra dapat menjadi senjata untuk melakukan perlawanan politis keberpihakan pada kaum yang tertindas, tentunya tanpa kehilangan sentuhan keindahan. Dan itu sebenarnya lebih efektif daripada perang-perangan nggak jelas antara para sastrawan.

&lt;em&gt;fertob's last blog post..&lt;a href='http://fertobhades.wordpress.com/2008/02/02/defensif/' rel="nofollow"&gt;Defensif&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

oOo
wah, salut nih, bung fertob, penggemar teks2 cerpennya marquez yang sering mengangkat tema2 peradaban yang sakit di amreika latin. mestinya sastra bisa menjalankan fungsi semacam itu bung seperti yang dikatakan seno gumira. kalau pers dibungkam, sastralah nyang berbicara. *halah sok tahu, yak* ketika pers gampang dibeli oleh kaum kapitalis, sastra mestinya bisa melakukan mitos pembebasan agar peradaban yang terbangun menjadi lebih terhormat dan bermartabat. </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yup, ini salah satu jenis perang yang menurut saya malah kontraproduktif terhadap tujuan dari sastra itu sendiri. Dan selalu saja terbentuk kubu-kubu yang saling berlawanan dan mengedepankan perbedaan sebagai pembatas antara &#8220;sastra sini&#8221; dan &#8220;sastra sono&#8221;.</p>
<p>Saya salah satu penggemar karya GG Marquez, karena karya-karya selalu mendobrak suatu kebobrokan sosial yang ada di masyarakat, khususnya di Amerika Latin. Sastra dapat menjadi senjata untuk melakukan perlawanan politis keberpihakan pada kaum yang tertindas, tentunya tanpa kehilangan sentuhan keindahan. Dan itu sebenarnya lebih efektif daripada perang-perangan nggak jelas antara para sastrawan.</p>
<p><em>fertob&#8217;s last blog post..<a href='http://fertobhades.wordpress.com/2008/02/02/defensif/' rel="nofollow">Defensif</a></em></p>
<p>oOo<br />
wah, salut nih, bung fertob, penggemar teks2 cerpennya marquez yang sering mengangkat tema2 peradaban yang sakit di amreika latin. mestinya sastra bisa menjalankan fungsi semacam itu bung seperti yang dikatakan seno gumira. kalau pers dibungkam, sastralah nyang berbicara. *halah sok tahu, yak* ketika pers gampang dibeli oleh kaum kapitalis, sastra mestinya bisa melakukan mitos pembebasan agar peradaban yang terbangun menjadi lebih terhormat dan bermartabat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yari NK</title>
		<link>http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/comment-page-1/#comment-1991</link>
		<dc:creator>Yari NK</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 14:09:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/#comment-1991</guid>
		<description>Aduh.... Pak Sawali..... saya jadi binun nih..... kok sastra ini sepertinya dipolitisasi juga ya?? Perang sih boleh aja.... tapi ya... perang yang sehat.... menuju kemajuan sastra seutuhnya bukan untuk kepentingan pribadi atau sekelompok sastrawan tertentu....

&lt;em&gt;Yari NK's last blog post..&lt;a href='http://spektrumku.wordpress.com/2008/02/02/gsm-vs-cdma-adu-murah-tapi-siapa-yang-paling-murah/' rel="nofollow"&gt;GSM vs CDMA: Adu Murah, Tapi Siapa Yang Paling Murah?&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

oOo
"perang" dalam sunia sastra itu dah hampir selalu terjadi pada setiap angkatan, bung yari. bisa jadi dah jadi kodrtnya, hehehehe :lol:  tapi hanya sebatas perang perbedaan paham dan aliran kok, ndak sampai perang fisik, hiks :mrgreen:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aduh&#8230;. Pak Sawali&#8230;.. saya jadi binun nih&#8230;.. kok sastra ini sepertinya dipolitisasi juga ya?? Perang sih boleh aja&#8230;. tapi ya&#8230; perang yang sehat&#8230;. menuju kemajuan sastra seutuhnya bukan untuk kepentingan pribadi atau sekelompok sastrawan tertentu&#8230;.</p>
<p><em>Yari NK&#8217;s last blog post..<a href='http://spektrumku.wordpress.com/2008/02/02/gsm-vs-cdma-adu-murah-tapi-siapa-yang-paling-murah/' rel="nofollow">GSM vs CDMA: Adu Murah, Tapi Siapa Yang Paling Murah?</a></em></p>
<p>oOo<br />
&#8220;perang&#8221; dalam sunia sastra itu dah hampir selalu terjadi pada setiap angkatan, bung yari. bisa jadi dah jadi kodrtnya, hehehehe <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  tapi hanya sebatas perang perbedaan paham dan aliran kok, ndak sampai perang fisik, hiks <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: STR</title>
		<link>http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/comment-page-1/#comment-1969</link>
		<dc:creator>STR</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 05:50:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/#comment-1969</guid>
		<description>Walah ... Perang perang perang ... Di mana-mana orang-orang pada perang. Saya makin lama makin capek. Apalagi kalo udah perang sama orang dungu, yang lebih suka meng-ad hominem pribadi daripada mematahkan argumen lawan.

&lt;em&gt;STR's last blog post..&lt;a href='http://www.orangmuda.com/brain-corner/catatan-hari-ini-tumpang-tindih-pembangunan/' rel="nofollow"&gt;Catatan Hari Ini: Tumpang Tindih Pembangunan&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Walah &#8230; Perang perang perang &#8230; Di mana-mana orang-orang pada perang. Saya makin lama makin capek. Apalagi kalo udah perang sama orang dungu, yang lebih suka meng-ad hominem pribadi daripada mematahkan argumen lawan.</p>
<p><em>STR&#8217;s last blog post..<a href='http://www.orangmuda.com/brain-corner/catatan-hari-ini-tumpang-tindih-pembangunan/' rel="nofollow">Catatan Hari Ini: Tumpang Tindih Pembangunan</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: suandana</title>
		<link>http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/comment-page-1/#comment-1964</link>
		<dc:creator>suandana</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 01:40:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/02/02/perang-sastra-terus-berlanjut/#comment-1964</guid>
		<description>Saya dak bisa komen apa-apa... hanya bisa sekedar absen saja... :neutral:

&lt;em&gt;suandana's last blog post..&lt;a href='http://suandana.wordpress.com/2008/02/03/terkadang/' rel="nofollow"&gt;terkadang?&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

oOo
Gpp, pak adit. walah, ndak harus absen kok, kayak sekolah aja, hiks :lol:  cukup fast-reading juga udah seneng kok, hehehehehe :lol:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya dak bisa komen apa-apa&#8230; hanya bisa sekedar absen saja&#8230; <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_neutral.gif' alt=':neutral:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>suandana&#8217;s last blog post..<a href='http://suandana.wordpress.com/2008/02/03/terkadang/' rel="nofollow">terkadang?</a></em></p>
<p>oOo<br />
Gpp, pak adit. walah, ndak harus absen kok, kayak sekolah aja, hiks <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  cukup fast-reading juga udah seneng kok, hehehehehe <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
