Roy Suryo, Bloger, dan Sikap Hipokrit
Friday, 29 February 2008 (22:58) | 287 pembaca | 75 komentar
Sang pakar kita, Roy Suryo, kembali bikin ulah. Setelah gagal memperoleh legitimasi atas klaim lagu Indonesia Raya pada Agustus 2007 yang silam, sang pakar kita itu seperti melempari telor busuk ke wajah para bloger. Kita belum tahu, bagaimana respon bloger-bloger sekelas Yusril Ihza Mahendra, Juwono Sudarsono, Wimar Witoelar, atau Enda Nasution. Bisa jadi, bloger-bloger ngetop itu tak akan pernah bereaksi. Mereka sangat paham, siapa sesungguhnya pelempar telor busuk itu. Bisa jadi akan makin bertambah ge-er kalau direspon, hiks.
Sebagaimana diberitakan detikinet.com, Roy Suryo menyebut bloger tak lebih dari tukang tipu.
Anggap saja blog seperti orang membuang sampah. Saya capek melayani orang kayak gitu. Itulah yang tidak saya sukai dari blog. Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu.
Demikian sebagian pernyataan yang disampaikan lelaki yang juga dikenal sebagai salah satu presenter sebuah stasiun TV Swasta yang murah senyum itu.
Senja Kala di Pancalaradya
Thursday, 28 February 2008 (19:13) | 212 pembaca | 21 komentar
Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Bola mata Prabu Drupada membelalak. Jidatnya berkerut. Wayang bertampang sangar dengan brengos lebat melintang di atas belahan bibir tebal itu benar-benar terusik oleh kehadiran seorang brahmana gembel dan dekil yang tiba-tiba nyelonong di tengah-tengah pertemuan. Yang bikin darahnya mendidih, brahmana kurus bermata cekung itu tanpa unggah-ungguh dan subasita langsung mak grapyuk merangkul erat-erat.
“Brahmana keparat! Cuah! Menjijikkan!” bentak Prabu Drupada sambil menyentakkan tubuh brahmana kurus itu hingga tersungkur ke lantai. Para pembesar dan pejabat istana yang hadir dalam pertemuan serentak berdiri. Bertatapan.
“Kakang Sucitra, mungkin Sampeyan tidak mengenal Drona, pendeta miskin dari Padepokan Sokalima. Namun aku yakin, Kakang masih ingat betul pada Kombayana yang pernah menuntut ilmu bersamamu di negeri Atasangin tempo dulu. Aku Kombayana, Kakang Sucitra!” kata brahmana kurus itu sambil berusaha mengembangkan senyuman. “Maafkan aku Kakang Sucitra kalau kehadiranku telah mengganggumu! Namun sungguh, kedatanganku kemari semata-mata ingin bernostalgia. Separo tanah Pancalaradya yang pernah Kakang janjikan padaku pun sudah bukan hal yang menarik! Aku benar-benar kangen pada Sampeyan, Kakang! Apa tidak boleh seseorang merindukan sahabat lama?” lanjutnya.
Ubuntu? Ufh….
Wednesday, 27 February 2008 (16:51) | 206 pembaca | 39 komentar
Gara-gara sentilan dan “provokasi” Pak deking, hehehehehe :mrgreen: dalam sebuah obrolan lewat YM sekitar 3 bulan yang lalu, akhirnya saya iseng mengajukan permohonan untuk dikirimi CD Ubuntu 7.10 (Gutsy Gibbon) gratis di sini. Sebenarnya sudah lama saya berkeinginan untuk bermigrasi dari windows ke linux. Windows yang saya gunakan sebagai sistem operasi di PC sudah terlalu lama dan sudah terinfeksi bejibun virus sehingga gerakan jadi lamban dan berat. Konek net pun jadi makin payah. Apalagi, ketika membaca postingan Mashair yang juga baru saja bermigrasi ke Ubuntu. *Hiks, jadi ngiri* Keinginan untuk segera bisa bersentuhan langsung dengan Ubuntu pun kian menggila.
Keinginan itu baru bisa terwujud ketika kemarin (Selasa, 26 Februari 2008) saya mendapatkan kiriman CD itu. Maklum, saya tinggal di sebuah kampung yang jauh dari pusat peradaban modern, sehingga bukan hal yang mudah untuk mendapatkan software yang up to date. Setelah menunggu sekitar 3 bulan, CD itu pun akhirnya terkirim juga.


Hanya dengan membaca petunjuk yang ada di balik kemasan CD, saya pun langsung memasukkan CD dan booting lewat dos. Software ubuntu pun segera jalan. Saya hanya tinggal menunggu proses selanjutnya. Berdasarkan sharing dengan beberapa teman, agaknya instalasi ubuntu itu amat mudah, sehingga saya pun pede saja untuk melakukannya. Walhasil, saya pun terus mengikuti perintah-perintah yang tertulis di layar. Memang benar, instalasi ubuntu ternyata teramat mudah.
Mitos dan Selubung Masa Silam: Tabir Penulisan Cerpen
Sunday, 24 February 2008 (16:53) | 903 pembaca | 45 komentar
*Narasi gombal mode on*
Ini narasi “gombal” tentang penulisan cerpen, hehehehe :lol: Diposting juga atas permintaan adik kelas saya, Abeeayang, yang saat ini tengah gencar memburu ilmu di sebuah lembaga keguruan, tempat saya dulu (1984-1988) “jual tampang” yang katrok dan ndesa, untuk mencari bekal hidup dalam memasuki sebuah peradaban yang masih diselimuti selubung ketidakpastian masa depan.
pak sekali2 mostingin tentang *cara* bikin cerpen nyang enyak, pak…biar kita semuah bisa belajar :mrgreen:
Demikian Abeeayang bertutur.
ooo
walah, aku juga masih belajar kok mas abee. ok, deh, kapan2 nanti aku tak mosting penulisan cerpen menurut versiku. yup, makasih mas abee masukannya.
Demikian respon iseng saya pada postingan sebelumnya.
Kehidupan “Wong Cilik” dalam Teks Cerpen
Friday, 22 February 2008 (23:46) | 1,471 pembaca | 37 komentar
Cerpen, bagi saya, adalah upaya penulis untuk mengabadikan berbagai peristiwa kemanusiaan, untuk selanjutnya diwartakan kepada publik dengan menggunakan media bahasa. Dalam konteks demikian, terasa naif apabila cerpen hanya memuja keindahan. Percuma saja apabila cerpen diekspresikan melalui idiom-idiom bahasa yang terlalu njlimet, bahkan bombastis. Sebab, cerpen-cerpen semacam itu tidak akan pernah masuk dalam khazanah pemikiran publik. Ini tidak lantas berarti bahwa cerpen jadi “alergi” dan anti-keindahan. Sebagai teks sastra, dengan sendirinya cerpen jelas mustahil terlahirkan dari rahim sang penulis tanpa medium bahasa.
Meski demikian, ada persoalan yang lebih urgen ketimbang itu. Banyak fenomena kemanusiaan yang menarik untuk direnungkan, diolah, dan digodog. Rakyat kecil yang tertindas, baik oleh rezim di dalam dirinya sendiri maupun di luar dirinya, penguasa yang pongah, atau interaksi sosial keseharian yang sarat dengan mitos-mitos, bagi saya, sangat menarik untuk ditafsirkan.
















