This blog is NOFOLLOW Free!

Roy Suryo, Bloger, dan Sikap Hipokrit

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Friday, 29 February 2008 | 88 pembaca | 74 komentar | Feed

Sang pakar kita, Roy Suryo, kembali bikin ulah. Setelah gagal memperoleh legitimasi atas klaim lagu Indonesia Raya pada Agustus 2007 yang silam, sang pakar kita itu seperti melempari telor busuk ke wajah para bloger. Kita belum tahu, bagaimana respon bloger-bloger sekelas Yusril Ihza Mahendra, Juwono Sudarsono, Wimar Witoelar, atau Enda Nasution. Bisa jadi, bloger-bloger ngetop [...]

Kategori: Bahasa, Opini, Refleksi

Senja Kala di Pancalaradya

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Thursday, 28 February 2008 | 52 pembaca | 21 komentar | Feed

Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Bola mata Prabu Drupada membelalak. Jidatnya berkerut. Wayang bertampang sangar dengan brengos lebat melintang di atas belahan bibir tebal itu benar-benar terusik oleh kehadiran seorang brahmana gembel dan dekil yang tiba-tiba nyelonong di tengah-tengah pertemuan. Yang bikin darahnya mendidih, brahmana kurus bermata cekung itu tanpa unggah-ungguh dan subasita langsung mak grapyuk [...]

Kategori: Budaya, Refleksi, Tradisi

Ubuntu? Ufh….

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Wednesday, 27 February 2008 | 32 pembaca | 36 komentar | Feed

Gara-gara sentilan dan “provokasi” Pak deking, hehehehehe :mrgreen: dalam sebuah obrolan lewat YM sekitar 3 bulan yang lalu, akhirnya saya iseng mengajukan permohonan untuk dikirimi CD Ubuntu 7.10 (Gutsy Gibbon) gratis di sini. Sebenarnya sudah lama saya berkeinginan untuk bermigrasi dari windows ke linux. Windows yang saya gunakan sebagai sistem operasi di PC sudah terlalu [...]

Kategori: Opini

Mitos dan Selubung Masa Silam: Tabir Penulisan Cerpen

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Sunday, 24 February 2008 | 155 pembaca | 41 komentar | Feed

*Narasi gombal mode on*
Ini narasi “gombal” tentang penulisan cerpen, hehehehe :lol: Diposting juga atas permintaan adik kelas saya, Abeeayang, yang saat ini tengah gencar memburu ilmu di sebuah lembaga keguruan, tempat saya dulu (1984-1988) “jual tampang” yang katrok dan ndesa, untuk mencari bekal hidup dalam memasuki sebuah peradaban yang masih diselimuti selubung ketidakpastian masa depan.
[...]

Kategori: Budaya, Cerpen, Opini, Sastra, Tradisi
Kontak gmail