Perlukah Kita Menjadi Narcisus?
Kategori: Bahasa, Budaya, Opini, Refleksi, Sastra
Pernahkah Sampeyan mengikuti diskusi sastra yang panas dan menegangkan? Ya, forum-forum diskusi sastra memang acapkali diwarnai situasi semacam itu. Hal itu cukup beralasan, sebab umumnya dihadiri oleh para kreator yang selama ini dikenal sebagai orang-orang “gila” dan “keras kepala” dalam beradu argumen. Bahkan, cenderung menjadi seorang narcisus; berapologi secara berlebihan dalam menjustifikasi kebenaran-kebenaran nilai kreativitas yang dianutnya. Tiba-tiba saja saya teringat peristiwa diskusi sastra 11 tahun yang silam. Bermula dari diskusi dalam acara “Nurdien Kembali” (17/7/1996) di aula Fakultas Sastra Undip, Semarang, Jawa Tengah. Bambang Supranoto, seorang penyair yang didaulat sebagai pembicara, mulai membedah... (Baca lanjutannya!)
Perempuan Bergaun Putih
Cerpen: Sawali Tuhusetya Bulan sepotong semangka menggantung di bibir langit yang berkabut. Temaram. Angin malam berkesiur lembut, menaburkan hawa busuk kematian. Seisi kampung seperti tenggelam di bawah jubah gaib Malaikat Maut. Sesekali terdengar samar lolong serigala di hutan jati yang jauh seperti memanggil-manggil arwah para penghuni lembah kematian. “Sampeyan masih melihat sosok perempuan bergaun putih itu?” “Ya! Perempuan itu masih setia menunggui rembulan setiap malam di bukit itu.” “Siapa dia sebenarnya?” “Tak seorang pun yang tahu. Dia hanya dikenali sebagai perempuan bergaun putih.” “Sejak kapan dia suka menunggui rembulan?” “Sejak gadis kecil berkepang dua meninggal.” “Siangnya?” “Tak seorang pun yang... (Baca lanjutannya!)













