Perubahan Paradigma Pendidikan
SEIRING dengan perubahan dan dinamika masyarakat yang terus bergerak menuju arus globalisasi, problem dan tantangan yang harus dihadapi oleh dunia persekolahan kita makin rumit dan kompleks. Sekolah tidak hanya dituntut untuk mampu melahirkan generasi-generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga diharapkan dapat menciptakan generasi bangsa yang cerdas secara emosional dan spiritual. Dengan kata lain, sekolah dituntut untuk mampu melahirkan generasi yang “utuh” dan “paripurna”. Namun, melahirkan generasi yang “utuh” dan “paripurna” semacam itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan “kemauan politik” para pengambil kebijakan untuk menjadikan dunia pendidikan sebagai “panglima”... (Baca lanjutannya!)
Tumbal
Orang-orang bagai rusa masuk kampung. Bingung. Subuh tadi, anak Lik Karimun yang baru berusia tujuh bulan, hilang. Konon, si Nok tiba-tiba raib dari sisi tetek simboknya. Kontan saja Yu Painem menjerit-jerit histeris. Lik Karimun yang tidur di sisi Yu Painem pun limbung. Tubuhnya loyo. “Wah! Ini pasti ulah demit jembatan itu lagi. Sudah tiga anak yang jadi tumbal!” kata seorang lelaki tua di sela-sela kerumuman banyak orang di rumah Lik Karimun. Suasana bagai lebah mencari sarang. Onar dalam kebingungan. Saling pandang. Saling tanya. Namun, tak ada jawaban. Mereka mengurai menurut alur pikiran masing-masing. “Kalau begitu, betul-betul gawat kampung kita. Kita harus mbudidaya agar demit itu tak lagi seliweran kemari!” lanjut lelaki... (Baca lanjutannya!)













