<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Menimbang Bobot Literer &#8220;Puisi Blog&#8221;</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 08:02:38 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/comment-page-1/#comment-17035</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 12:24:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/#comment-17035</guid>
		<description>aha, sebuah ungkapan yang indah, puitis, dan ekostis. makasih banget. ini bisa menjadi bahan reffelsi saya ttg masalah hidup dan kehidupan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aha, sebuah ungkapan yang indah, puitis, dan ekostis. makasih banget. ini bisa menjadi bahan reffelsi saya ttg masalah hidup dan kehidupan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: diari rahasia</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/comment-page-1/#comment-16986</link>
		<dc:creator>diari rahasia</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 19:23:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/#comment-16986</guid>
		<description>biarkan puisi ini dalam lemariku
biar saja dalam hati dan hilang
semoga tiada siapa juga yang tau
tapi bagaimana agar mereka mengerti aku
manakala puisi ini hanya sendiri..

Bermimpilah seluas samudera hatimu,
dan menjadikan mimpi itu menjadi kenyataan
seorang pujangga yang mampu melahirkan kata ia mampu berucap
“Tiada yang paling bernilai pada sebuah kejayaan selain sebuku usaha"
daripada jadi kena debu mari kita coba berkarya dalam sebuah buku cetak
• cukup kirimkan semua karya ke alamat ini
sastra_antropologi@yahoo.com
karya akan diseleksi sehingga dapat mencapai
suatu tujuan yang baik bagi sipembaca yang Insya Allah akan dicetak dan dibukukan.
terimakasih atas partisipasinya
"Kalau Bukan Kita Siapa Lagi"
jangan pernah takut untuk melangkah
untuk pengiriman naskah harap dalam format word

Keterangan Lebih Lanjut : http://lembahkasih.page.tl</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>biarkan puisi ini dalam lemariku<br />
biar saja dalam hati dan hilang<br />
semoga tiada siapa juga yang tau<br />
tapi bagaimana agar mereka mengerti aku<br />
manakala puisi ini hanya sendiri..</p>
<p>Bermimpilah seluas samudera hatimu,<br />
dan menjadikan mimpi itu menjadi kenyataan<br />
seorang pujangga yang mampu melahirkan kata ia mampu berucap<br />
“Tiada yang paling bernilai pada sebuah kejayaan selain sebuku usaha&#8221;<br />
daripada jadi kena debu mari kita coba berkarya dalam sebuah buku cetak<br />
• cukup kirimkan semua karya ke alamat ini<br />
<a href="mailto:sastra_antropologi@yahoo.com">sastra_antropologi@yahoo.com</a><br />
karya akan diseleksi sehingga dapat mencapai<br />
suatu tujuan yang baik bagi sipembaca yang Insya Allah akan dicetak dan dibukukan.<br />
terimakasih atas partisipasinya<br />
&#8220;Kalau Bukan Kita Siapa Lagi&#8221;<br />
jangan pernah takut untuk melangkah<br />
untuk pengiriman naskah harap dalam format word</p>
<p>Keterangan Lebih Lanjut : <a href="http://lembahkasih.page.tl" rel="nofollow">http://lembahkasih.page.tl</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/comment-page-1/#comment-15930</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 17:24:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/#comment-15930</guid>
		<description>wah, tentang proses penciptaan puisi, saya kira sangat ditentukan oleh minat dan mood seseorang, mas denny. ada yang gampang sekali nulis puisi, tapi mengalami kesulitan dalam menulis cerpen, demikian pula sebalinya. ok, deh, mas denny, saya akan segera meluncur ke rumah mas denny.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah, tentang proses penciptaan puisi, saya kira sangat ditentukan oleh minat dan mood seseorang, mas denny. ada yang gampang sekali nulis puisi, tapi mengalami kesulitan dalam menulis cerpen, demikian pula sebalinya. ok, deh, mas denny, saya akan segera meluncur ke rumah mas denny.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Denny</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/comment-page-1/#comment-15893</link>
		<dc:creator>Denny</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 10:12:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/#comment-15893</guid>
		<description>bapak Sawali setelah saya baca artikel bapak Rupanya cukup rumit juga dalam menulis blog puisi Yang bermutu.  bukankah menulis itu sesuatu ke bebasan tapi dari segi kebebasan itu bagaimana cara nya menyampaikan apa yang kita rasa dan bisa di terima oleh khalayak banyak. dan bapak sawali tolong apabila tak berkeberatan untuk bertandang ke blog saya akudenny.blogspot.com , dan saya berharap bapak bisa memberi komentar untuk kemajuan gaya penulisan puisi saya.:)&gt;-</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bapak Sawali setelah saya baca artikel bapak Rupanya cukup rumit juga dalam menulis blog puisi Yang bermutu.  bukankah menulis itu sesuatu ke bebasan tapi dari segi kebebasan itu bagaimana cara nya menyampaikan apa yang kita rasa dan bisa di terima oleh khalayak banyak. dan bapak sawali tolong apabila tak berkeberatan untuk bertandang ke blog saya akudenny.blogspot.com , dan saya berharap bapak bisa memberi komentar untuk kemajuan gaya penulisan puisi saya.:)>-</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Qinimain Zain</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/comment-page-1/#comment-10424</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 00:14:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/#comment-10424</guid>
		<description>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
 (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. 

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan  How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). 

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).      

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. 

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist &#38; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

&lt;blockquote&gt;
makasih kiriman artikelnya, pak :roll:&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)</p>
<p>Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V<br />
 (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)<br />
Oleh Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).</p>
<p>JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   </p>
<p>Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. </p>
<p>Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?</p>
<p>Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).</p>
<p>YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).</p>
<p>Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.</p>
<p>SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).</p>
<p>Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.</p>
<p>Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan  How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). </p>
<p>Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.</p>
<p>SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).</p>
<p>Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  </p>
<p>Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).      </p>
<p>Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. </p>
<p>SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?</p>
<p>*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com)</p>
<blockquote><p>
makasih kiriman artikelnya, pak <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hanna</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/comment-page-1/#comment-1978</link>
		<dc:creator>hanna</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 10:35:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/#comment-1978</guid>
		<description>Kalo aku hanya mampu corat-coret. masuk kategori apa tulisannya ora ngerti. pokoknya nulis.  :razz: 

setuju dengan idenya nih, pak. membukukan puisi teman2.
tentang bobot, bibit, bebet, aku masih buta. :mrgreen:  

aku suka blog ini karna banyak membahas sastra. jadi aku bisa belajar di sini. makasih ya, pak.

&lt;em&gt;hanna's last blog post..&lt;a href='http://atapsenja.wordpress.com/2008/01/28/menggugat-cinta/' rel="nofollow"&gt;Menggugat Cinta&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

oOo
Puisi di blog mbak hanna mantab habis kok. sudah saatnya dibukukan, khusus antologi puisi mbak hanna. makin mantap deh pokoknya. yup, makanya kalau kopdar ada acara baca puisi dan launching, wah, pasti heboh dan asyik. mbak hanna kudu siap baca puisinya, yak, hehehehehe :lol: walah, makasih mbak atas apresiasinya, mbak hanna bisa berkunjung ke gubug ini kapan saja mbak hanna mau, kok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo aku hanya mampu corat-coret. masuk kategori apa tulisannya ora ngerti. pokoknya nulis.  <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':razz:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>setuju dengan idenya nih, pak. membukukan puisi teman2.<br />
tentang bobot, bibit, bebet, aku masih buta. <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  </p>
<p>aku suka blog ini karna banyak membahas sastra. jadi aku bisa belajar di sini. makasih ya, pak.</p>
<p><em>hanna&#8217;s last blog post..<a href='http://atapsenja.wordpress.com/2008/01/28/menggugat-cinta/' rel="nofollow">Menggugat Cinta</a></em></p>
<p>oOo<br />
Puisi di blog mbak hanna mantab habis kok. sudah saatnya dibukukan, khusus antologi puisi mbak hanna. makin mantap deh pokoknya. yup, makanya kalau kopdar ada acara baca puisi dan launching, wah, pasti heboh dan asyik. mbak hanna kudu siap baca puisinya, yak, hehehehehe <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> walah, makasih mbak atas apresiasinya, mbak hanna bisa berkunjung ke gubug ini kapan saja mbak hanna mau, kok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tan</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/comment-page-1/#comment-1954</link>
		<dc:creator>tan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 13:07:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/#comment-1954</guid>
		<description>kalo bagi saya, menulis puisi, kemudian di posting di blog cuma media pembelajaran aja, kalo ditanya soal mutu, jelas jauh dari bagus, tapi toh gada salahnya kan pak, memulai dari kesalahan2. syukur2 kalo bisa berkembang jadi bagus. soalnya sampe sekarangpun saya belum sanggup menulis puisi. susah!  :mrgreen:

&lt;em&gt;tan's last blog post..&lt;a href='http://andalasdejava.wordpress.com/2008/02/02/belalang-dan-anjing/' rel="nofollow"&gt;Belalang dan Anjing&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

oOo
Yup, setuju banget mas tan. tapi "puisi blog" ada juga yang kadar literernya cukup bagus loh, bahkan ada juga yang melebihi kadar literer "puisi koran". makanya, mas tan perlu juga tuh sesekali mostingin puisi, hehehehe :lol:  </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalo bagi saya, menulis puisi, kemudian di posting di blog cuma media pembelajaran aja, kalo ditanya soal mutu, jelas jauh dari bagus, tapi toh gada salahnya kan pak, memulai dari kesalahan2. syukur2 kalo bisa berkembang jadi bagus. soalnya sampe sekarangpun saya belum sanggup menulis puisi. susah!  <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>tan&#8217;s last blog post..<a href='http://andalasdejava.wordpress.com/2008/02/02/belalang-dan-anjing/' rel="nofollow">Belalang dan Anjing</a></em></p>
<p>oOo<br />
Yup, setuju banget mas tan. tapi &#8220;puisi blog&#8221; ada juga yang kadar literernya cukup bagus loh, bahkan ada juga yang melebihi kadar literer &#8220;puisi koran&#8221;. makanya, mas tan perlu juga tuh sesekali mostingin puisi, hehehehe <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kw</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/comment-page-1/#comment-1934</link>
		<dc:creator>kw</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 15:53:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/#comment-1934</guid>
		<description>pak sawali, apakah seni harus menanggung beban berat itu? ( menyenangkan dan berguna) :)

&lt;em&gt;kw's last blog post..&lt;a href='http://fanabis.blogsome.com/2008/02/01/jakarta-tenggelam/' rel="nofollow"&gt;jakarta tenggelam&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

oOo
walah, mestinya bukan beban, mas kw. esensi sastra kan memang mencakup 2 hal itu. kalau salah satunya ditinggalkan, bobot literernya jadi berkurang, kan? *halah sok tahu, yak?*</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pak sawali, apakah seni harus menanggung beban berat itu? ( menyenangkan dan berguna) <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>kw&#8217;s last blog post..<a href='http://fanabis.blogsome.com/2008/02/01/jakarta-tenggelam/' rel="nofollow">jakarta tenggelam</a></em></p>
<p>oOo<br />
walah, mestinya bukan beban, mas kw. esensi sastra kan memang mencakup 2 hal itu. kalau salah satunya ditinggalkan, bobot literernya jadi berkurang, kan? *halah sok tahu, yak?*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: perempuan</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/comment-page-1/#comment-1933</link>
		<dc:creator>perempuan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 15:07:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/#comment-1933</guid>
		<description>Refrensinya mantap bang!!
Duh kalu soal sastra, diriku masih buram, heeee
Tapi bagus juga lah kalau bloggers punya kumpulan puisi sendiri, punya komunitas sendiri, kajian sendiri, heboh kali ya :-)

oOo
walah, biasa aja kok mbak. BTW, mbak kan sangat menyukai tetraloginya andrea hirata, wah, sudah so pasti seneng sastra juga, kok buram segh? kutunggu karya2 puisi mbak, yak? ok, deh, salam kreatif.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Refrensinya mantap bang!!<br />
Duh kalu soal sastra, diriku masih buram, heeee<br />
Tapi bagus juga lah kalau bloggers punya kumpulan puisi sendiri, punya komunitas sendiri, kajian sendiri, heboh kali ya <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>oOo<br />
walah, biasa aja kok mbak. BTW, mbak kan sangat menyukai tetraloginya andrea hirata, wah, sudah so pasti seneng sastra juga, kok buram segh? kutunggu karya2 puisi mbak, yak? ok, deh, salam kreatif.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: danalingga</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/comment-page-1/#comment-1932</link>
		<dc:creator>danalingga</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 14:34:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/31/menimbang-bobot-literer-puisi-blog/#comment-1932</guid>
		<description>Lagi ngomongin saya ya pak. *GR*

Baca artikel ini, saya jadi semangat buat puisi lagi nih pak. Semoga bisa makin bagus. :D

&lt;em&gt;danalingga's last blog post..&lt;a href='http://danalingga.wordpress.com/2008/02/01/pekerja-lsm/' rel="nofollow"&gt;Pekerja LSM&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

oOo
Yuo, harus mas dana. Puisi2 mas dana sangat kusukai. berwarna pelangi. ada dimensi sosial, humanis, dan religinya di situ. wah, semangat mas dana. salam kreatif.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lagi ngomongin saya ya pak. *GR*</p>
<p>Baca artikel ini, saya jadi semangat buat puisi lagi nih pak. Semoga bisa makin bagus. <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>danalingga&#8217;s last blog post..<a href='http://danalingga.wordpress.com/2008/02/01/pekerja-lsm/' rel="nofollow">Pekerja LSM</a></em></p>
<p>oOo<br />
Yuo, harus mas dana. Puisi2 mas dana sangat kusukai. berwarna pelangi. ada dimensi sosial, humanis, dan religinya di situ. wah, semangat mas dana. salam kreatif.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
