<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Perlukah Kita Menjadi Narcisus?</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 13:23:13 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: mathematicse</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/comment-page-1/#comment-11922</link>
		<dc:creator>mathematicse</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 23:08:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/#comment-11922</guid>
		<description>Terimakasih atas komentar konstruktifnya, Pak. :D


Nih, barusan saya nulis: http://mathematicse.wordpress.com/2008/10/09/romantis-dengan-matematika-part-1/

&lt;abbr&gt;&lt;em&gt;mathematicses last blog post..&lt;a href="http://mathematicse.wordpress.com/2008/10/09/romantis-dengan-matematika-part-1/"&gt;Romantis dengan Matematika (Part 1)&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/abbr&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terimakasih atas komentar konstruktifnya, Pak. <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nih, barusan saya nulis: <a href="http://mathematicse.wordpress.com/2008/10/09/romantis-dengan-matematika-part-1/" rel="nofollow">http://mathematicse.wordpress.com/2008/10/09/romantis-dengan-matematika-part-1/</a></p>
<p><abbr><em>mathematicses last blog post..<a href="http://mathematicse.wordpress.com/2008/10/09/romantis-dengan-matematika-part-1/">Romantis dengan Matematika (Part 1)</a></em></abbr></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/comment-page-1/#comment-11906</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 18:44:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/#comment-11906</guid>
		<description>walah, cerpen2 pak jupri dah bagus kok, hanya tinggal memoles diksinya. topiknya juga menarik, membawa dunia ilmu pengetahuan ke dalam sebuah cerita. memang itu bukan hal yang gampang, pak, tapi pak jupri mampu melakukannya dengan baik. salam kreatif, pak!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>walah, cerpen2 pak jupri dah bagus kok, hanya tinggal memoles diksinya. topiknya juga menarik, membawa dunia ilmu pengetahuan ke dalam sebuah cerita. memang itu bukan hal yang gampang, pak, tapi pak jupri mampu melakukannya dengan baik. salam kreatif, pak!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mathematicse</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/comment-page-1/#comment-11905</link>
		<dc:creator>mathematicse</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 17:12:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/#comment-11905</guid>
		<description>Pak, tolong dong cerpen-cerpenan saya dikritik habis-habisan... (he he.. narcissus bukan Pak? )

Saya sering ga PD kalau nulis cerpen... :D

&lt;abbr&gt;&lt;em&gt;mathematicses last blog post..&lt;a href="http://mathematicse.wordpress.com/2008/10/02/berbagi-saat-idul-fitri/"&gt;Berbagi Saat Idul Fitri&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/abbr&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak, tolong dong cerpen-cerpenan saya dikritik habis-habisan&#8230; (he he.. narcissus bukan Pak? )</p>
<p>Saya sering ga PD kalau nulis cerpen&#8230; <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
<abbr><em>mathematicses last blog post..<a href="http://mathematicse.wordpress.com/2008/10/02/berbagi-saat-idul-fitri/">Berbagi Saat Idul Fitri</a></em></abbr></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dhodotes</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/comment-page-1/#comment-2840</link>
		<dc:creator>dhodotes</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 14:03:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/#comment-2840</guid>
		<description>Jare Carik'e? Agak sulit bahkan sangat sulit. 

Lah dalam sastra kan ada nilai-nilai kehidupan, jiwa, pembelajaran, berarti di situ ada obyektivitas (teposeliro), kemerdekaan, keterbukaan (*tenan gak ya?). Kalo emang gitu, 6 tadi saling berpasangan. Lha kalo ngobrolkan sastra tanpa pasangan2 tadi ya...jadi sangat sulit, gak ketemu.

Dengan itu tadi, kalo ada forum diskusi masalah sastra akhirnya jadi debat sastra, kok rasanya gimana ya. Lha memang gak mungkin sama cara pandang orang ke suatu karya sastra, jadi ya gak bisa dipaksakan sama.

&lt;em&gt;dhodotes's last blog post..&lt;a href='http://nglarazzz.blogspot.com/2008/03/ikhlas-carike-bilang-blekok-benar.html' rel="nofollow"&gt;Ikhlas Carik'e bilang, "Blekok benar."&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
yup, bener banget carike, diskusi sastra memang sangat terbuka terhadap beragam pendapat dan penafsiran. meski demikian kalau sudah saling membunuh kreativitas ya repot jadinya. bener ndak carike?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jare Carik&#8217;e? Agak sulit bahkan sangat sulit. </p>
<p>Lah dalam sastra kan ada nilai-nilai kehidupan, jiwa, pembelajaran, berarti di situ ada obyektivitas (teposeliro), kemerdekaan, keterbukaan (*tenan gak ya?). Kalo emang gitu, 6 tadi saling berpasangan. Lha kalo ngobrolkan sastra tanpa pasangan2 tadi ya&#8230;jadi sangat sulit, gak ketemu.</p>
<p>Dengan itu tadi, kalo ada forum diskusi masalah sastra akhirnya jadi debat sastra, kok rasanya gimana ya. Lha memang gak mungkin sama cara pandang orang ke suatu karya sastra, jadi ya gak bisa dipaksakan sama.</p>
<p><em>dhodotes&#8217;s last blog post..<a href='http://nglarazzz.blogspot.com/2008/03/ikhlas-carike-bilang-blekok-benar.html' rel="nofollow">Ikhlas Carik&#8217;e bilang, &#8220;Blekok benar.&#8221;</a></em></p>
<p>ooo<br />
yup, bener banget carike, diskusi sastra memang sangat terbuka terhadap beragam pendapat dan penafsiran. meski demikian kalau sudah saling membunuh kreativitas ya repot jadinya. bener ndak carike?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Buat apa menulis bersama kalau bisa menulis sendiri? &#171; Dunia Penulis</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/comment-page-1/#comment-1376</link>
		<dc:creator>Buat apa menulis bersama kalau bisa menulis sendiri? &#171; Dunia Penulis</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 21:50:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/#comment-1376</guid>
		<description>[...] Artikel Agak Terkait: - http://mind.donnyreza.net/13012008/kabar-baru-tantangan-baru/ - http://erander.wordpress.com/2008/01/12/akhirnya-mati/ - http://novikhansa.wordpress.com/2008/01/10/menulis-mengobati-saya/  - http://sinthionk.rezaervani.com/?p=99  - http://webersis.com/2008/01/15/rasulullah-buta-huruf/ - http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/  [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Artikel Agak Terkait: - <a href="http://mind.donnyreza.net/13012008/kabar-baru-tantangan-baru/" rel="nofollow">http://mind.donnyreza.net/13012008/kabar-baru-tantangan-baru/</a> - <a href="http://erander.wordpress.com/2008/01/12/akhirnya-mati/" rel="nofollow">http://erander.wordpress.com/2008/01/12/akhirnya-mati/</a> - <a href="http://novikhansa.wordpress.com/2008/01/10/menulis-mengobati-saya/ " rel="nofollow">http://novikhansa.wordpress.com/2008/01/10/menulis-mengobati-saya/ </a> - <a href="http://sinthionk.rezaervani.com/?p=99 " rel="nofollow">http://sinthionk.rezaervani.com/?p=99 </a> - <a href="http://webersis.com/2008/01/15/rasulullah-buta-huruf/" rel="nofollow">http://webersis.com/2008/01/15/rasulullah-buta-huruf/</a> - <a href="http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/ " rel="nofollow">http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/ </a> [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/comment-page-1/#comment-1360</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 14:59:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/#comment-1360</guid>
		<description>Nah tuh kan, mas satria kena batunya, hehehehe :lol:  ngeblog ternyata bisa juga malatih kecerdasan emosi, kan? *halah*

&lt;em&gt;Sawali Tuhusetya's last blog post..&lt;a href='http://sawali.info/2008/01/14/dilema-peran-kaum-perempuan-pasca-jawa/' rel="nofollow"&gt;Dilema Peran Kaum Perempuan Pasca-Jawa&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nah tuh kan, mas satria kena batunya, hehehehe <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  ngeblog ternyata bisa juga malatih kecerdasan emosi, kan? *halah*</p>
<p><em>Sawali Tuhusetya&#8217;s last blog post..<a href='http://sawali.info/2008/01/14/dilema-peran-kaum-perempuan-pasca-jawa/' rel="nofollow">Dilema Peran Kaum Perempuan Pasca-Jawa</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: STR</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/comment-page-1/#comment-1355</link>
		<dc:creator>STR</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 11:50:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/#comment-1355</guid>
		<description>Wah, saya juga pernah dapet "penghakiman" kayak gini Pak ketika nulis posting soal Indo-Malay. Dan memang bener, ketika saya jadi kasar, ternyata mereka malah "menggila." :mrgreen:

&lt;em&gt;STR's last blog post..&lt;a href='http://www.orangmuda.com/brain-corner/berlian-porter-anti-pak-harto/' rel="nofollow"&gt;Berlian Porter Anti Pak Harto!&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, saya juga pernah dapet &#8220;penghakiman&#8221; kayak gini Pak ketika nulis posting soal Indo-Malay. Dan memang bener, ketika saya jadi kasar, ternyata mereka malah &#8220;menggila.&#8221; <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /><br />
<em>STR&#8217;s last blog post..<a href='http://www.orangmuda.com/brain-corner/berlian-porter-anti-pak-harto/' rel="nofollow">Berlian Porter Anti Pak Harto!</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/comment-page-1/#comment-1320</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Jan 2008 16:26:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/#comment-1320</guid>
		<description>bisa jadi bener pak deKing. Teks sastra atau postingan sastra yang dipublish lewat blog itu kan sangat personal sehingga tak jarang memunculkan digresi penafsiran. Tapi kalo menurut saya perbedaan penafsiran antara penulis dan pembaca itulah letak dinamika apresiasi sastra. bagi saya itu bagus saja, pak. kritik pun ndak masalah, justru dengan adanya kritik, penulis akan terus berupaya melahirkan teks2 sastra yang lebih bagus. *halah, sok tahu ya pak?*

&lt;em&gt;Sawali Tuhusetya's last blog post..&lt;a href='http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/' rel="nofollow"&gt;Perlukah Kita Menjadi Narcisus?&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bisa jadi bener pak deKing. Teks sastra atau postingan sastra yang dipublish lewat blog itu kan sangat personal sehingga tak jarang memunculkan digresi penafsiran. Tapi kalo menurut saya perbedaan penafsiran antara penulis dan pembaca itulah letak dinamika apresiasi sastra. bagi saya itu bagus saja, pak. kritik pun ndak masalah, justru dengan adanya kritik, penulis akan terus berupaya melahirkan teks2 sastra yang lebih bagus. *halah, sok tahu ya pak?*</p>
<p><em>Sawali Tuhusetya&#8217;s last blog post..<a href='http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/' rel="nofollow">Perlukah Kita Menjadi Narcisus?</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: deKing</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/comment-page-1/#comment-1319</link>
		<dc:creator>deKing</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Jan 2008 16:00:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/#comment-1319</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;Tak jarang terjadi, komentar yang sengaja disediakan oleh sang penulis (bloger) di bawah postingan –yang seharusnya bisa menjadi ajang diskusi dan sharing yang menarik– telah bergeser menjadi ruang “penghakiman”.&lt;/blockquote&gt;
Hehehe dan kesempurnaan diksi yang melahirkan peluang multitafsir seringkali menjadi pemicu munculnya penghakiman tsb ya Pak? :D

&lt;em&gt;deKing's last blog post..&lt;a href='http://deking.wordpress.com/2008/01/11/dia-dan-enam-nya/' rel="nofollow"&gt;Dia dan Enam-Nya ?&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tak jarang terjadi, komentar yang sengaja disediakan oleh sang penulis (bloger) di bawah postingan –yang seharusnya bisa menjadi ajang diskusi dan sharing yang menarik– telah bergeser menjadi ruang “penghakiman”.</p></blockquote>
<p>Hehehe dan kesempurnaan diksi yang melahirkan peluang multitafsir seringkali menjadi pemicu munculnya penghakiman tsb ya Pak? <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
<em>deKing&#8217;s last blog post..<a href='http://deking.wordpress.com/2008/01/11/dia-dan-enam-nya/' rel="nofollow">Dia dan Enam-Nya ?</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/comment-page-1/#comment-1318</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Jan 2008 14:42:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/#comment-1318</guid>
		<description>hahahahaha :lol:  apa yang saya tulis ini sebenarnya pengalaman empiris pak gempur ketika terjadi perdebatan sengit dalam forum diskusi di UNDIP Semarang, bahkan berlanjut menjadi polemik di harian Suara Merdeka yang kebetulan  *halah* saya ikut terlibat di dalamnya. dalam diskusi tersebut penyair membedah karya penyair lain. yang terjadi kemudian adalah penafsiran2 sepihak yang terkesan memaksakan style pribadinya diikuti oleh style penyair lain. berdasarkan pengalaman itu, saya punya asumsi bahwa kritik sastra akan berkembang dengan baik jika sang kritikus murni sebagai kritikus, tanpa terlibat dalam penciptaan teks2 kreatif, seperti alm. HB. Jassin, Faruk HT, atau Mama S Mahayana. Ini tugas PT utk menciptakan kritikus2 berbobot. persoalan mahasiswa jarang yang menjadi sastrawan, menurut hemat saya itu sangat personal sifatnya, tergantung bagaimana "talenta" mahasiswanya. Tapi idealnya memang sudah saatnya PT melahirkan kritikus2 yang bagus dan berbobot dengan tingkat objektivitas kritik yang akuntabel dan akseptabel. *halah, maaf pak kalo saya juga sok tahu!*

&lt;em&gt;Sawali Tuhusetya's last blog post..&lt;a href='http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/' rel="nofollow"&gt;Perlukah Kita Menjadi Narcisus?&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hahahahaha <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  apa yang saya tulis ini sebenarnya pengalaman empiris pak gempur ketika terjadi perdebatan sengit dalam forum diskusi di UNDIP Semarang, bahkan berlanjut menjadi polemik di harian Suara Merdeka yang kebetulan  *halah* saya ikut terlibat di dalamnya. dalam diskusi tersebut penyair membedah karya penyair lain. yang terjadi kemudian adalah penafsiran2 sepihak yang terkesan memaksakan style pribadinya diikuti oleh style penyair lain. berdasarkan pengalaman itu, saya punya asumsi bahwa kritik sastra akan berkembang dengan baik jika sang kritikus murni sebagai kritikus, tanpa terlibat dalam penciptaan teks2 kreatif, seperti alm. HB. Jassin, Faruk HT, atau Mama S Mahayana. Ini tugas PT utk menciptakan kritikus2 berbobot. persoalan mahasiswa jarang yang menjadi sastrawan, menurut hemat saya itu sangat personal sifatnya, tergantung bagaimana &#8220;talenta&#8221; mahasiswanya. Tapi idealnya memang sudah saatnya PT melahirkan kritikus2 yang bagus dan berbobot dengan tingkat objektivitas kritik yang akuntabel dan akseptabel. *halah, maaf pak kalo saya juga sok tahu!*</p>
<p><em>Sawali Tuhusetya&#8217;s last blog post..<a href='http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/' rel="nofollow">Perlukah Kita Menjadi Narcisus?</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
