Home | Bahasa, Refleksi | Budaya Meneliti di Kalangan Guru

Budaya Meneliti di Kalangan Guru

Saturday, 5 January 2008 (19:15) | 2,637 pembaca | 21 komentar | Print this Article

Secara jujur harus diakui, budaya meneliti di kalangan guru belum tumbuh dan berkembang seperti yang diharapkan. Kondisi semacam ini jauh berbeda dengan budaya meneliti di kalangan dosen yang memang termasuk salah satu Tridarma Perguruan Tinggi yang “wajib” dilaksanakan oleh para insan kampus. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa budaya meneliti di kalangan guru termasuk “Indonesia” yang tertinggal dalam dinamika dunia pendidikan kita. Lemahnya budaya meneliti di kalangan guru bisa dilihat berdasarkan minimnya jumlah guru golongan IV-A yang mampu melaju mulus ke golongan IV-B. Hal itu bisa terjadi karena untuk bisa “menikmati” golongan IV-B, seorang guru wajib mengumpulkan angka kredit pengembangan profesi sebanyak 12 point.

MAU MEN-DOWNLOAD PANDUAN PENYUSUNAN PROPOSAL PTK DAN CONTOHNYA?

Seiring dengan dinamika dunia pendidikan kita yang terus bergerak dalam pusaran arus global dan berupaya membangun pencitraan publik, idealnya seorang guru sekaligus juga menjadi seorang peneliti. Tidak harus menggunakan biaya yang mahal. Objek penelitian pun tidak perlu dalam raung lingkup yang luas seperti halnya dalam penelitian formal. Guru bisa menjadikan kelas, peserta didik, dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran sebagai bahan penelitian. Dalam dunia pendidikan, model penelitian semacam itu sudah lama dikenal dengan istilah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research).

Melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK), paling tidak ada dua manfaat penting yang bisa didapatkan para guru. Pertama, selalu muncul dorongan untuk memperbaiki mutu kegiatan pembelajaran di kelas. Hal ini penting, sebab kegiatan pembelajaran bisa dikatakan sebagai “roh” kurikulum. Sebagus apa pun konsep kurikulum kalau tidak diimbangi dengan kegiatan pembelajaran yang bermutu hanya akan menjadi dokumen yang mengapung-apung dalam bentangan slogan. Kedua, guru mampu menumbuhkembangkan kompetensi profesionalnya sehingga tampil percaya diri dengan penguasaan substansi materi ajar yang luas dan mendalam.

Dari sisi efektivitas waktu penelitian, PTK cukup praktis dan bisa dilaksanakan oleh semua guru. Sambil melaksanakan penelitian, guru tetap mampu melaksanakan kegiatan belajar-mengajar sebagaimana yang telah dirancag dalam silabus dan RPP. Ini artinya, PTK tidak akan mengganggu KBM, bahkan mampu memicu tumbuhnya atmosfer pembelajaran yang kondusif.

Yang sedikit agak repot adalah menyusun proposal. Di dalam proposal hendaknya sudah tergambar permasalahan yang akan diatasi, jenis aksi (tindakan) yang dilaksanakan untuk mengatasi permasalahan, apa tindakan selanjutnya, dan sebagainya. Untuk selanjutnya, panduan penyusunan proposal dapat di-download di sini. (File dikompres dalam program winzip. Jika dalam komputer belum tersedia, download saja di sini, untuk selanjutnya diinstal ke dalam PC atau Notebook).

Biaya penelitian pun tidak terlalu “boros”. Jika mau sedikit kreatif, kita bisa mengajukan proposal yang rutin digelar tiap tahun oleh Balitbang Depdiknas. Anggaran yang disubsidikan bagi guru hingga mencapai Rp10 juta. Selain itu, kita juga bisa mengajukan proposal dalam lingkup kecil-kecilan di sekolah kepada kepala sekolah. Bukankah dalam RAPBS ada pos anggaran untuk subsidi PTK? Mengapa hal itu tidak dimanfaatkan?

Contoh proposal PTK dapat di-download di sini!

Sebagaimana diketahui, menurut PP RI No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) pasal 28, pendidik adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Dari keempat kompetensi tersebut, kompetensi profesional tampaknya masih menjadi persoalan serius dalam dunia pendidikan kita karena bersentuhan langsung dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi materi kurikulum matapelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut, serta wawasan keilmuan sebagai guru.

Secara rinci elemen kompetensi profesional memiliki subkompetensi dan indikator esensial sebagai berikut.

(1) Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau kohe-ren dengan materi ajar; memahami hubungan konsep antarmata pelajaran terkait; dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.

(2) Menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk me-nambah wawasan dan memperdalam pengetahuan/materi bidang studi.

 

Dalam konteks demikian, profesionalisme guru agaknya tak bisa ditawar-tawar lagi, apalagi tidak lama lagi ujian sertifikasi guru akan digelar. Jika atmosfer budaya meneliti di kalangan guru tumbuh secara kondusif, pelan tapi pasti, para guru di Indonesia akan tampil percaya diri. Tidak hanya terampil mengajar, tetapi juga hebat penguasaan substansi materi ajarnya. Pada gilirannya, kelak para guru yang sudah lama disanjung puji dengan hymne “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang getir dan penuh satire itu, benar-benar akan mampu mewujudkan dambaan semua komponen bangsa. Dengan kompetensi profesional yang layak dibanggakan, para guru akan mampu melahirkan anak-anak bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, sosial, dan spiritual.

Nah, kenapa tidak kita mulai dari sekarang, he-he-he? ***

Kategori: Bahasa, Refleksi | Tags:

Tulisan lain yang berkaitan:

imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgMenjadikan Sekolah sebagai Basis Pengembangan Bahasa Indonesia (2-Habis) (Friday, 18 July 2008, 3,572 pembaca, 49 respon) Diakui atau tidak, kesan bahwa sekolah baru sebatas menjalankan fungsinya sebagai tempat mentrasfer ilmu secara kognitif masih kuat melekat dalam imaji publik. Fungsinya sebagai pusat pembentukan nilai yang mengacu pada perubahan mendasar dalam sikap,...
imgCukup Satu Malin Kundang Saja! (Tuesday, 27 May 2008, 748 pembaca, 63 respon) Baru saja kita menyaksikan sebuah adegan drama di atas panggung kehidupan sosial. Tragis dan ironis sekaligus. Tragis lantaran harus ada korban. Kaum muda kita, mahasiswa-mahasiswa yang gencar menyuarakan penolakan kenaikan BBM itu, ada yang harus...
imgSastra Koran di Tengah Imaji Kekerasan (Monday, 26 May 2008, 812 pembaca, 40 respon) Tradisi penulisan teks sastra lewat koran (sastra koran) sudah lama muncul. (Hampir) semua sastrawan kondang memanfaatkannya. Gerson Poyk, Abdul Hadi WM, Danarto, Seno Gumira Ajidarma, Gus Mus, Hamsad Rangkuti, atau Afrizal Malna –sekadar menyebut...
imgReformasi Kultural: Sebuah Indonesia yang Tertinggal (Monday, 19 May 2008, 4,358 pembaca, 40 respon) (Refleksi Hari Kebangkitan Nasional 2008) Kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Budaya Meneliti di Kalangan Guru" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 5 January 2008 (19:15)) pada kategori Bahasa, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

21 Responses to "Budaya Meneliti di Kalangan Guru"

  1. Menggunakan Firefox 3.0.14 Firefox 3.0.14 pada Windows XP Windows XP

    I would like to thank you for the efforts you have made in writing this post. I am hoping the same best work from you in the future as well. In fact your creative writing abilities has inspired me to start my own BlogEngine blog now.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (95 queries: 0.895 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP