<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Kang Sakri dan Perempuan Pemimpi</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/2008/01/01/kang-sakri-dan-perempuan-pemimpi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info/2008/01/01/kang-sakri-dan-perempuan-pemimpi/</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 02:50:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Mitos dan Selubung Masa Silam: Tabir Penulisan Cerpen &#124; Catatan Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/01/kang-sakri-dan-perempuan-pemimpi/comment-page-1/#comment-2545</link>
		<dc:creator>Mitos dan Selubung Masa Silam: Tabir Penulisan Cerpen &#124; Catatan Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 10:02:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=90#comment-2545</guid>
		<description>[...] cerpen Kepala di Bilik Sarkawi. Namun, ada juga cerpen yang bisa selesai antara 4-5 jam. Cerpen Kang Sakri dan Perempuan Mimpi, misalnya, bisa selesai dalam perjalanan Yogyakarta-Kendal sekitar 4-5 jam. Cerita mengalir begitu [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] cerpen Kepala di Bilik Sarkawi. Namun, ada juga cerpen yang bisa selesai antara 4-5 jam. Cerpen Kang Sakri dan Perempuan Mimpi, misalnya, bisa selesai dalam perjalanan Yogyakarta-Kendal sekitar 4-5 jam. Cerita mengalir begitu [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mathematicse</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/01/kang-sakri-dan-perempuan-pemimpi/comment-page-1/#comment-26</link>
		<dc:creator>mathematicse</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Aug 2007 08:34:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=90#comment-26</guid>
		<description>Wah terimakasih, Pak, atas penjelasannya. Menambah kosa-kata saya.

Tentang penggunaan kata "dia" dan "ia", saya seringnya menggunakan "ia", ternyata resmi ya? Pantas saja ada yang mengatakan bahwa tulisan saya itu kesannya formal banget. Tapi, biarlah, itu kan kebiasaan saya. Boleh kan, Pak? :D

Oh, iya. Insya Allah salamnya akan saya sampaikan ke keluarga (Bapak, Ibu, tetah, dan adik-adik saya di Indonesia...). :D

sekali lagi terimakasih banyak, Pak. Salam juga buat keluarga bapak.

----------------
Ok, boleh-boleh saja, Pak. "Dia" atau "ia" bisa sama-sama digunakan, hanya konotasinya memang memiliki nuansa makna yang sedikit berbeda. Makasih kembali, Pak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah terimakasih, Pak, atas penjelasannya. Menambah kosa-kata saya.</p>
<p>Tentang penggunaan kata &#8220;dia&#8221; dan &#8220;ia&#8221;, saya seringnya menggunakan &#8220;ia&#8221;, ternyata resmi ya? Pantas saja ada yang mengatakan bahwa tulisan saya itu kesannya formal banget. Tapi, biarlah, itu kan kebiasaan saya. Boleh kan, Pak? <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Oh, iya. Insya Allah salamnya akan saya sampaikan ke keluarga (Bapak, Ibu, tetah, dan adik-adik saya di Indonesia&#8230;). <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
sekali lagi terimakasih banyak, Pak. Salam juga buat keluarga bapak.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ok, boleh-boleh saja, Pak. &#8220;Dia&#8221; atau &#8220;ia&#8221; bisa sama-sama digunakan, hanya konotasinya memang memiliki nuansa makna yang sedikit berbeda. Makasih kembali, Pak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mathematicse</title>
		<link>http://sawali.info/2008/01/01/kang-sakri-dan-perempuan-pemimpi/comment-page-1/#comment-25</link>
		<dc:creator>mathematicse</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Aug 2007 06:07:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=90#comment-25</guid>
		<description>Wow, cerita yang sangat hebat, Pak! Ini kisah nyata atau fiksi, Pak?

Saya termasuk orang yang suka baca-baca cerita. Cerita menarik, humor, ataupun cerita anak-anak. Jadi teringat waktu dulu, semasa kecil, bila baca buku bahasa Indonesia, yang pertama-tama dibaca ya cerita-cerita yang ada di dalamnya. Apalagi kalau baca majalah Bobo, wah cerita-ceritanya biasanya saya baca sampai habis.

Oh, iya. Saya mencatat beberapa istilah, yang bagi saya merupakan tambahan kosa-kata. Seperti berikut ini:
-Lelayu
-Guyup
-Kesripahan
-Perdikan
-Kotak ajaib = TV?
-Kesrakat
-Kecu = begal
-Niyaga
-Waranggana
-Dhagelan = dagelan
-Merah saga
-Gending = gendhing
-Merak ati
-Berdebam

Mudah-mudahan Pak Sawali tak keberatan untuk menuliskan padanan katanya (walaupun mungkin saya mengerti lewat konteks, cuma suka ragu-ragu, kurang yakin. :D)

Oh, iya lagi. Di artikel ini Bapak menggunakan sebutan untuk panggilan orang ketiga tunggal "dia". Pertanyaan saya, apa bedanya antara penggunaan "dia" dan "ia"? Bila sama saja, tak ada beda, kapan kita membedakan penggunaan keduanya?

Terimakasih banget atas penjelasannya, Pak. Saya benar-benar belajar bahasa Indoensia nih.... :D

------------------------

Wah, terima kasih, Pak Al-Jupri, sempat-sempatnya membuka arsip cerpen, he3x. Luar biasa kalau Bapak sejak kecil dah senang membaca cerita. Konon, kecerdasan emosi diawali dengan membaca cerita. Ok, Pak, dengan senang hati saya mencoba untuk sedikit menjelaskan makna kata-kata yang ada dalam cerpen "Kang Sakri..." yang berwarna kultur-etnik Jawa.

-Lelayu      = kabar duka (kematian)
-Guyup      = rukun, akrab
-Kesripahan = kesusahan karena ada keluarganya yang meninggal
-Perdikan = perkampungan
-Kotak ajaib = TV? (betul, Pak)
-Kesrakat = miskin dan hina
-Kecu = begal (perampok)
-Niyaga = penabuh gamelan
-Waranggana = sindhen (penyanyi Jawa diiringi gamelan)
-Dhagelan = dagelan (lawak)
-Merah saga = ungkapan untuk menyatakan amarah yang memuncak (matanya merah sekali)
-Gending = gendhing (lagu Jawa)
-Merak ati = menarik hati (memikat)
-Berdebam = jatuh (menimbulkan suara berdeman = onomatope)

* tentang ia dan dia nggak ada bedanya, keduanya bisa saling dipertukarkan. Namun, dalam perasaan saya, dia memiliki konotasi yang lebih akrab dan tidak formal, sedangkan "ia" konotasinya kurang akrab dan terlalu formal (resmi).
Ok, Pak Al-Jupri. Salam buat keluarga. Trims. *</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wow, cerita yang sangat hebat, Pak! Ini kisah nyata atau fiksi, Pak?</p>
<p>Saya termasuk orang yang suka baca-baca cerita. Cerita menarik, humor, ataupun cerita anak-anak. Jadi teringat waktu dulu, semasa kecil, bila baca buku bahasa Indonesia, yang pertama-tama dibaca ya cerita-cerita yang ada di dalamnya. Apalagi kalau baca majalah Bobo, wah cerita-ceritanya biasanya saya baca sampai habis.</p>
<p>Oh, iya. Saya mencatat beberapa istilah, yang bagi saya merupakan tambahan kosa-kata. Seperti berikut ini:<br />
-Lelayu<br />
-Guyup<br />
-Kesripahan<br />
-Perdikan<br />
-Kotak ajaib = TV?<br />
-Kesrakat<br />
-Kecu = begal<br />
-Niyaga<br />
-Waranggana<br />
-Dhagelan = dagelan<br />
-Merah saga<br />
-Gending = gendhing<br />
-Merak ati<br />
-Berdebam</p>
<p>Mudah-mudahan Pak Sawali tak keberatan untuk menuliskan padanan katanya (walaupun mungkin saya mengerti lewat konteks, cuma suka ragu-ragu, kurang yakin. :D)</p>
<p>Oh, iya lagi. Di artikel ini Bapak menggunakan sebutan untuk panggilan orang ketiga tunggal &#8220;dia&#8221;. Pertanyaan saya, apa bedanya antara penggunaan &#8220;dia&#8221; dan &#8220;ia&#8221;? Bila sama saja, tak ada beda, kapan kita membedakan penggunaan keduanya?</p>
<p>Terimakasih banget atas penjelasannya, Pak. Saya benar-benar belajar bahasa Indoensia nih&#8230;. <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Wah, terima kasih, Pak Al-Jupri, sempat-sempatnya membuka arsip cerpen, he3x. Luar biasa kalau Bapak sejak kecil dah senang membaca cerita. Konon, kecerdasan emosi diawali dengan membaca cerita. Ok, Pak, dengan senang hati saya mencoba untuk sedikit menjelaskan makna kata-kata yang ada dalam cerpen &#8220;Kang Sakri&#8230;&#8221; yang berwarna kultur-etnik Jawa.</p>
<p>-Lelayu      = kabar duka (kematian)<br />
-Guyup      = rukun, akrab<br />
-Kesripahan = kesusahan karena ada keluarganya yang meninggal<br />
-Perdikan = perkampungan<br />
-Kotak ajaib = TV? (betul, Pak)<br />
-Kesrakat = miskin dan hina<br />
-Kecu = begal (perampok)<br />
-Niyaga = penabuh gamelan<br />
-Waranggana = sindhen (penyanyi Jawa diiringi gamelan)<br />
-Dhagelan = dagelan (lawak)<br />
-Merah saga = ungkapan untuk menyatakan amarah yang memuncak (matanya merah sekali)<br />
-Gending = gendhing (lagu Jawa)<br />
-Merak ati = menarik hati (memikat)<br />
-Berdebam = jatuh (menimbulkan suara berdeman = onomatope)</p>
<p>* tentang ia dan dia nggak ada bedanya, keduanya bisa saling dipertukarkan. Namun, dalam perasaan saya, dia memiliki konotasi yang lebih akrab dan tidak formal, sedangkan &#8220;ia&#8221; konotasinya kurang akrab dan terlalu formal (resmi).<br />
Ok, Pak Al-Jupri. Salam buat keluarga. Trims. *</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
