Menimbang Bobot Literer “Puisi Blog”
Thursday, 31 January 2008 (20:59) | 480 pembaca | 34 komentar
Sekitar tahun 1989, saya pernah terlibat sedikit polemik dengan Kusprihyanto Namma (KN) tentang esensi “Sajak Koran” di harian Suara Merdeka. Dalam tulisannya “Penerbitan Puisi, Sekadar Dokumentasi” itu, KN ingin menggarisbawahi dua hal. Pertama, sajak yang termuat di koran (sajak koran) terpola oleh selera media massa cetak sehingga penyair terjebak dalam sikap hipokrit (kepura-puraan). Dengan demikian, sajak bukan hasil penjelajahan proses kreativitas yang intens. Kedua, sulit menemukan antologi puisi yang mengandung ekspresi-ekspresi berbeda dan keliaran-keliaran yang mencengangkan karena penyair terbentur struktur birokrasi budaya kita yang cenderung “membatasi” daya jelajah dalam menuangkan kebebasan dan kegelisahan.
Saat itu, saya tertarik menanggapi tulisan KN karena pengaruh adagium yang pernah diluncurkan oleh Thomas Aquinas, seorang filsuf skolastik, “Pulchrum dicitur id apprensio”. Adagium yang berarti “keindahan bila ditangkap menyenangkan” itu menyiratkan makna bahwa keindahan menjadi mustahil menyenangkan tanpa media sosialiasi. Keindahan (sajak) mokal bisa dinikmati orang lain tanpa publikasi. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila dalam upaya memperoleh legitimasi kepenyairan, seorang penyair berusaha menembus barikade redaksi sastra-budaya di media cetak dalam memasyarakatkan obsesi visi dan estetisnya. Saya berkeyakinan bahwa apa yang penyair tulis di koran, murni terlahir dari kepekaan nurani, hasil pergulatan daya jelajah kreativitas yang intens. Mereka tidak harus dicurigai sebagai manusia hipokrit yang cenderung menuruti kepuasan selera media massa. Sajak koran mereka tetap menunjukkan penjelajahan rasio akal budi dan budi nurani dalam transpirasi total kepenyairan. Tanggapan saya terhadap tulisan KN bisa dibaca di sini.
Kenapa Blog Ini Jadi Boros Bandwith?
Wednesday, 30 January 2008 (03:14) | 147 pembaca | 34 komentar
Selama dua hari (Senin-Selasa, 28-29 Januari 2008), saya kembali didaulat oleh LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Semarang, Jawa Tengah, untuk mendampingi rekan-rekan sejawat guru mata pelajaran Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah untuk membuat blog. Ini merupakan angkatan ke-4 alias yang terakhir. Liputan guru go-blog sebelumnya bisa dibaca di sini dan di sini. Totalnya ada sekitar 330 guru dari Kabupaten Banyumas yang go-blog.
Ada perasaan suka dan duka yang tumpah di laboratorium komputer itu. Sukanya, bisa menemani rekan-rekan sejawat yang tengah terjangkiti “virus” ngeblog itu sambil memperbanyak silaturahmi. Dukanya, kalau konek internet tiba-tiba ngadad. Arghhhhh … Harus muter-muter berkeliling sambil teriak-teriak. “Habis ini klik yang itu, habis itu klik begini …” *halah* Meski demikian, rasa capek dan lelah terobati juga setelah rekan-rekan sejawat itu sukses go-blog. Meski belum bisa tampil optimal, blog yang mereka buat bisa menjadi bukti bahwa teman-teman guru mapel TIK Kabupaten Banyumas yang memiliki beragam disiplin ilmu itu tidak gaptek lagi dengan belantara dunia maya. URL blog rekan-rekan sejawat bisa dilihat di sini.
Selamat Jalan Sang Jenderal Besar!
Sunday, 27 January 2008 (03:19) | 47 pembaca | 30 komentar
Sejak masuk RS Pertamina Jakarta, 4 Januari 2008 yang lalu, Sang Jenderal Besar itu makin tak kuasa melawan penyakit yang tak henti-hentinya menggerus dan menggerogoti tubuhnya yang kian ringkih dan rapuh. Ya, Soeharto, mantan penguasa Orde Baru lebih dari tiga dasa warsa itu, akhirnya menyerah juga.... (selanjutnya?)
Hilangnya “Aura” Kesenian Kota Semarang
Saturday, 26 January 2008 (14:29) | 589 pembaca | 16 komentar
Pada era ’80-an, Semarang masih memiliki iklim dan “aura” kesenian yang mampu menghidupkan para penggiat seni untuk berkiprah. GOR Simpang Lima saat itu tidak melulu hanya digunakan sebagai ruang unjuk kemampuan dan kompetisi para atlet dari berbagai penjuru kota. Banyak agenda kesenian yang bergaung dari balik gedung yang cukup besar dan bergengsi tersebut. Si Burung Merak, WS Rendra pun pernah pentas di gedung yang kini telah tersulap menjadi pusat perbelanjaan mewah yang memanjakan selera konsumtif orang-orang berkantong tebal.
Namun, seiring dengan kibaran bendera modernisasi yang mengusung gaya hidup kapitalistis, konsumtif, materialistis, dan hedonis, Kota Semarang (nyaris) kehilangan “aura” keseniannya. Kini, hampir sulit ditemukan gedung-gedung “bergengsi” yang berkenan menampung agenda-agenda kesenian dan kebudayaan lantaran secara finansial dianggap sangat tidak menguntungkan.
Pentas-pentas seni dan budaya hanya digelar di ruang-ruang sempit yang relatif tidak memiliki “magnet” yang mampu menyedot publik untuk berduyun-duyun mendatanginya. Gedung-gedung kesenian yang telah menjadi pusat kegiatan seni Kota Atlas ini sudah lama digusur oleh mesin-mesin kapitalisme. Gedung GRISS dan Ngesti Pendawa sudah tak tercium lagi aromanya, tergilas “roda-roda” zaman beberapa tahun silam.
***
Reformasi Sekolah, Apa Kabar?
Friday, 25 January 2008 (14:19) | 449 pembaca | 25 komentar
Sudah hampir satu dasa warsa peristiwa heroik itu berlangsung. Ya, seperti dikomando, para mahasiswa bergerak bersama-sama untuk melakukan perubahan; mendobrak sebuah rezim yang dinilai telah “mengkhianati” cita-cita luhur bangsa. Meski “intro”-nya cukup tragis dan perih menyayat-nyayat lantaran harus ada beberapa mahasiswa yang jadi “tumbal”, gerakan itu tidak sia-sia. Reformasi berhembus kencang di segala penjuru nusantara. Kebebasan berpendapat dan berserikat yang selama ini terbelenggu di atas tungku kekuasaan orde baru, akhirnya menemukan muaranya. Semuanya bebas berteriak dan menggemakan yel-yel reformasi yang terus menggema di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat.


















