Home | Archives for January, 2008
Menimbang Bobot Literer “Puisi Blog”
(31 January 2008, 594 pembaca, 34 respon)
Sekitar tahun 1989, saya pernah terlibat sedikit polemik dengan Kusprihyanto Namma (KN) tentang esensi “Sajak Koran” di harian Suara Merdeka. Dalam tulisannya “Penerbitan Puisi, Sekadar Dokumentasi” itu, KN ingin menggarisbawahi dua hal. Pertama, sajak yang termuat di koran (sajak koran) terpola oleh selera media massa cetak sehingga penyair terjebak dalam sikap hipokrit (kepura-puraan). Dengan demikian, sajak... Kenapa Blog Ini Jadi Boros Bandwith?
(30 January 2008, 155 pembaca, 34 respon)
Selama dua hari (Senin-Selasa, 28-29 Januari 2008), saya kembali didaulat oleh LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Semarang, Jawa Tengah, untuk mendampingi rekan-rekan sejawat guru mata pelajaran Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah untuk membuat blog. Ini merupakan angkatan ke-4 alias yang terakhir. Liputan guru go-blog sebelumnya bisa dibaca di sini dan di sini. Totalnya ada sekitar... Selamat Jalan Sang Jenderal Besar!
(27 January 2008, 47 pembaca, 30 respon)
Sejak masuk RS Pertamina Jakarta, 4 Januari 2008 yang lalu, Sang Jenderal Besar itu makin tak kuasa melawan penyakit yang tak henti-hentinya menggerus dan menggerogoti tubuhnya yang kian ringkih dan rapuh. Ya, Soeharto, mantan penguasa Orde Baru lebih dari tiga dasa warsa itu, akhirnya menyerah juga. Betapapun hebatnya usaha para dokter kepresidenan dalam upaya memulihkan kesehatan Jenderal Besar yang selalu tersenyum itu, Allah... Hilangnya “Aura” Kesenian Kota Semarang
(26 January 2008, 657 pembaca, 16 respon)
Pada era ’80-an, Semarang masih memiliki iklim dan “aura” kesenian yang mampu menghidupkan para penggiat seni untuk berkiprah. GOR Simpang Lima saat itu tidak melulu hanya digunakan sebagai ruang unjuk kemampuan dan kompetisi para atlet dari berbagai penjuru kota. Banyak agenda kesenian yang bergaung dari balik gedung yang cukup besar dan bergengsi tersebut. Si Burung Merak, WS Rendra pun pernah pentas di gedung yang kini... Reformasi Sekolah, Apa Kabar?
(25 January 2008, 529 pembaca, 25 respon)
Sudah hampir satu dasa warsa peristiwa heroik itu berlangsung. Ya, seperti dikomando, para mahasiswa bergerak bersama-sama untuk melakukan perubahan; mendobrak sebuah rezim yang dinilai telah “mengkhianati” cita-cita luhur bangsa. Meski “intro”-nya cukup tragis dan perih menyayat-nyayat lantaran harus ada beberapa mahasiswa yang jadi “tumbal”, gerakan itu tidak sia-sia. Reformasi berhembus kencang... Marto Klawung
(24 January 2008, 142 pembaca, 31 respon)
Untuk ke sekian kalinya, Marto Klawung kembali mengamuk. Sorot matanya liar, ganas, menantang. Ke mana-mana, dia membawa parang terhunus, berkilat-kilat. Kalau sedang kambuh, nyaris tak ada seorang pun yang sanggup menjinakkannya.
Meski setengah sinting, Marto Klawung tergolong memiliki ingatan tajam. Dia hafal betul dengan orang-orang yang dianggap pernah menyakitinya. Dengan sikap bagaikan jawara, dia tak segan-segan melabraknya.... Menjadi Shi Fu
(22 January 2008, 300 pembaca, 28 respon)
Ketika iseng membaca sebuah artikel, tiba-tiba saya tertarik pada pepatah klasik Cina: “Yi ri wei shi, zhong sheng wei fu” (sehari menjadi guru, seumur hidup menjadi orang tua). *Maaf kalau salah ejaan dan artinya. * Jujur saja, saya shock ketika berusaha memahami makna idiom ini. Benar-benar menohok ulu hati saya yang selama ini telanjur mengagung-agungkan guru sebagai sebuah profesi. Padahal, sejatinya guru bukanlah... Perlukah Pengarang Melakukan “Pemberontakan”?
(21 January 2008, 286 pembaca, 23 respon)
Pertanyaan yang tersirat dalam judul tulisan ini seringkali mengusik kegelisahan penulis atau calon penulis yang tengah memburu jatidiri. Dalam sebuah obrolan, banyak teman yang –entah sebagai pernyataan sikap minder atau rendah hati– bilang bahwa mereka tak punya bakat menulis. *Halah* Seperti biasanya, saya selalu “alergi” setiap kali mendengar pernyataan semacam itu. Banyak orang yang demikian “mendewakan”... Sutardji Calzoum Bachri, Maman S. Mahayana, dan Saut Situmorang
(20 January 2008, 4,083 pembaca, 38 respon)
Usai sudah perhelatan akbar itu. Gedung DPRD Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (19-21 Januari 2008) telah menjadi saksi kiprah para “penggila” sastra se-Indonesia dalam memburu dan menemukan cintanya. Saya bukanlah anggota Komunitas Sastra Indonesia (KSI), apalagi pengurus. Kehadiran saya hanya sebatas penggembira. Kalau toh saya dapat undangan, itu juga karena *halah* ulah teman-teman di Kudus itu, semacam Mas Mukti Sutarman... Memburu Cinta yang Hilang di Rimba Sastra
(16 January 2008, 935 pembaca, 37 respon)
Mohon maaf, saya tidak sedang sok romantis, apalagi sentimentil, hehehe :lol: Judul tersebut sengaja saya pilih untuk menumpahkan kegelisahan saya yang selama ini hampir jarang menemukan cinta yang sesungguhnya di komunitas sastra. Jujur saja, saya memang seringkali menulis cerpen atau esai di blog. Namun, semua itu terasa belum cukup untuk menemukan cinta saya yang sesungguhnya di dunia sastra. Saya ingin sekali menikmati perdebatan... 










