<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Taufiq Ismail tentang &#8220;Gerakan Syahwat Merdeka&#8221;</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/2007/09/19/taufiq-ismail-tentang-gerakan-syahwat-merdeka/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info/2007/09/19/taufiq-ismail-tentang-gerakan-syahwat-merdeka/</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 08:24:02 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2007/09/19/taufiq-ismail-tentang-gerakan-syahwat-merdeka/#comment-31294</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 19:51:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2007/09/19/taufiq-ismail-tentang-gerakan-syahwat-merdeka/#comment-31294</guid>
		<description>silakan, mangga saja, mas. wah, utk akses ke pak taufik, doh, mohon maaf, saya tdk bisa membantu. ada baiknya borwsing saja di search engine. insyaallah ada alamat pak taufik yang bisa dilacak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>silakan, mangga saja, mas. wah, utk akses ke pak taufik, doh, mohon maaf, saya tdk bisa membantu. ada baiknya borwsing saja di search engine. insyaallah ada alamat pak taufik yang bisa dilacak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sidik</title>
		<link>http://sawali.info/2007/09/19/taufiq-ismail-tentang-gerakan-syahwat-merdeka/#comment-31204</link>
		<dc:creator>sidik</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 01:26:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2007/09/19/taufiq-ismail-tentang-gerakan-syahwat-merdeka/#comment-31204</guid>
		<description>Saya sedang cari bahan postingan untuk isi blog saya GAPPROK NO PORN. gapprok itu singkatan : gerakan anti pornografi &amp; pornoaksi, bisa juga diartikan : ganyang pornografi &amp; pornoaksi. Saya akan masukan bahan tulisan tentang GSM ini dalam artikel GAPPROK.
Terus saya mau tanya juga nih, bisa gak permintaan saya ini sampai ke bpk. taufiq ismail ?, yakni sudikah kiranya beliau mengirimi gapprok hadiah berupa tulisan, atau puisi beliau yang indah &amp; berisi, serta peduli terhadap eksistensi moralitas - akhlaq kharimah masyarakat yang tidak boleh &quot;menipis&quot; karena tergerusnya rasa malu, karena banjirnya budaya permisif sperti fenomena GSM yang telah dicermati dengan baik &amp; peduli oleh bpk Taufiq Ismail, Jazakallah khairan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sedang cari bahan postingan untuk isi <a title="blog" href="http://sawali.info/category/tentang-blog/">blog</a> saya GAPPROK NO PORN. gapprok itu singkatan : gerakan anti pornografi &amp; pornoaksi, bisa juga diartikan : ganyang pornografi &amp; pornoaksi. Saya akan masukan bahan tulisan tentang GSM ini dalam artikel GAPPROK.<br />
Terus saya mau tanya juga nih, bisa gak permintaan saya ini sampai ke bpk. taufiq ismail ?, yakni sudikah kiranya beliau mengirimi gapprok hadiah berupa tulisan, atau <a title="puisi" href="http://sawali.info/tag/puisi/">puisi</a> beliau yang indah &amp; berisi, serta peduli terhadap eksistensi moralitas &#8211; akhlaq kharimah masyarakat yang tidak boleh &#8220;menipis&#8221; karena tergerusnya rasa malu, karena banjirnya <a title="budaya" href="http://sawali.info/category/budaya/">budaya</a> permisif sperti fenomena GSM yang telah dicermati dengan baik &amp; peduli oleh bpk Taufiq Ismail, Jazakallah khairan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Qinimain Zain</title>
		<link>http://sawali.info/2007/09/19/taufiq-ismail-tentang-gerakan-syahwat-merdeka/#comment-10425</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 00:58:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2007/09/19/taufiq-ismail-tentang-gerakan-syahwat-merdeka/#comment-10425</guid>
		<description>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
 (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. 

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan  How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). 

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).      

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. 

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)</p>
<p>Strategi Paradigma Baru Kongres <a title="Cerpen" href="http://sawali.info/category/sastra/cerpen/">Cerpen</a> Indonesia V<br />
 (Studi Kasus: <a title="Polemik" href="http://sawali.info/tag/polemik/">Polemik</a> Ukuran Nilai <a title="Sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">Sastra</a>)<br />
Oleh Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan <a title="hukum" href="http://sawali.info/tag/hukum/">hukum</a>-<a title="hukum" href="http://sawali.info/tag/hukum/">hukum</a> yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).</p>
<p>JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres <a title="Cerpen" href="http://sawali.info/category/sastra/cerpen/">Cerpen</a> Indonesia V di Taman <a title="Budaya" href="http://sawali.info/category/budaya/">Budaya</a>, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi <a title="budaya" href="http://sawali.info/category/budaya/">budaya</a> oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan <a title="sastrawan" href="http://sawali.info/tag/sastrawan/">sastrawan</a>, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah <a title="polemik" href="http://sawali.info/tag/polemik/">polemik</a> panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   </p>
<p><a title="Polemik" href="http://sawali.info/tag/polemik/">Polemik</a> adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya <a title="polemik" href="http://sawali.info/tag/polemik/">polemik</a> <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan <a title="kritik" href="http://sawali.info/review-cerpen/">kritik</a> akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> kesusastraan. </p>
<p>Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?</p>
<p>Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan &#8211; sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan <a title="hukum" href="http://sawali.info/tag/hukum/">hukum</a> (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan <a title="hukum" href="http://sawali.info/tag/hukum/">hukum</a>, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan <a title="hukum" href="http://sawali.info/tag/hukum/">hukum</a> yang rasional untuk tujuan tertentu).</p>
<p>YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).</p>
<p>Mengenai <a title="polemik" href="http://sawali.info/tag/polemik/">polemik</a>. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, <a title="polemik" href="http://sawali.info/tag/polemik/">polemik</a>  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.</p>
<p>SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).</p>
<p>Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.</p>
<p>Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan  How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). </p>
<p>Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu <a title="polemik" href="http://sawali.info/tag/polemik/">polemik</a> atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, <a title="sastrawan" href="http://sawali.info/tag/sastrawan/">sastrawan</a> (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.</p>
<p>SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).</p>
<p>Kembali ke <a title="polemik" href="http://sawali.info/tag/polemik/">polemik</a> ukuran nilai <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  </p>
<p>Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja <a title="penulis" href="http://sawali.info/tag/penulis/">penulis</a> mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur <a title="etika" href="http://sawali.info/tag/etika/">etika</a>).      </p>
<p>Sekarang jelas, yang dikejar <a title="penulis" href="http://sawali.info/tag/penulis/">penulis</a> mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. </p>
<p><a title="SEKOLAH" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">SEKOLAH</a> dan kuliah, <a title="seminar" href="http://sawali.info/tag/seminar/">seminar</a> dan training, <a title="buku" href="http://sawali.info/tag/buku/">buku</a> dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?</p>
<p>*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: <a target="_blank" href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: MRV</title>
		<link>http://sawali.info/2007/09/19/taufiq-ismail-tentang-gerakan-syahwat-merdeka/#comment-2882</link>
		<dc:creator>MRV</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 08:28:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2007/09/19/taufiq-ismail-tentang-gerakan-syahwat-merdeka/#comment-2882</guid>
		<description>Menurut saya seorang sastrawan/seniman tidaklah lepas dari tanggung jawab moral. Sekalipun mereka memiliki ideologi sendiri dengan menerbitkan karya SMS tsb, tidak bisa mereka cuek terhadap cara penyampaiannya. 


Bicara soal seks, memang siapa yang melarang? AL-Qur&#039;an pun bicara soal seks. Tapi apakah Tuhan dalam bicara soal seks harus menggunakan kata-kata yang erotis? Panas? Cabul? Tuhan saja Yang Maha Benar, masih menjaga kesopanan dalam berkata-kata melalui firman. Masa&#039; baru sekedar jadi sastrawan saja mau mengesampingkan &#039;sensor diri&#039; dalam kata-katanya? 

Menurut saya, apapun ideologi yang ingin disampaikan, &#039;sensor diri&#039; harus tetap ada. Jangan membuat karya sastra dengan adegan seks yang &#039;vulgar&#039;, apalagi sampai memancing syahwat, dan lalu menggunakan &#039;-isme&#039;- &#039;-isme&#039; sebagai sebuah pembenaran belaka.

ooo
yups, saya kira idealnya begitu, bung. yang saya risaukan adalah munculnya friksi dan konflik yang saling mengklaim diri sebagai pihak yang paling benar. itu yang bisa membikin sastra jadi stagnan. </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut saya seorang <a title="sastrawan" href="http://sawali.info/tag/sastrawan/">sastrawan</a>/seniman tidaklah lepas dari tanggung jawab <a title="moral" href="http://sawali.info/tag/moral/">moral</a>. Sekalipun mereka memiliki ideologi sendiri dengan menerbitkan karya SMS tsb, tidak bisa mereka cuek terhadap cara penyampaiannya. </p>
<p>Bicara soal seks, memang siapa yang melarang? AL-Qur&#8217;an pun bicara soal seks. Tapi apakah Tuhan dalam bicara soal seks harus menggunakan kata-kata yang erotis? Panas? Cabul? Tuhan saja Yang Maha Benar, masih menjaga kesopanan dalam berkata-kata melalui firman. Masa&#8217; baru sekedar jadi <a title="sastrawan" href="http://sawali.info/tag/sastrawan/">sastrawan</a> saja mau mengesampingkan &#8216;sensor diri&#8217; dalam kata-katanya? </p>
<p>Menurut saya, apapun ideologi yang ingin disampaikan, &#8216;sensor diri&#8217; harus tetap ada. Jangan membuat karya <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> dengan adegan seks yang &#8216;vulgar&#8217;, apalagi sampai memancing syahwat, dan lalu menggunakan &#8216;-isme&#8217;- &#8216;-isme&#8217; sebagai sebuah pembenaran belaka.</p>
<p>ooo<br />
yups, saya kira idealnya begitu, bung. yang saya risaukan adalah munculnya friksi dan konflik yang saling mengklaim diri sebagai pihak yang paling benar. itu yang bisa membikin <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> jadi stagnan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

