<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Catatan Tercecer dari Semiloka Nasional: Peran TIK dalam Revitalisasi Pembelajaran</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/2007/08/23/catatan-tercecer-dari-semiloka-nasional-peran-tik-dalam-revitalisasi-pembelajaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info/2007/08/23/catatan-tercecer-dari-semiloka-nasional-peran-tik-dalam-revitalisasi-pembelajaran/</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Mar 2010 20:49:47 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/23/catatan-tercecer-dari-semiloka-nasional-peran-tik-dalam-revitalisasi-pembelajaran/comment-page-1/#comment-218</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2007 13:21:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=182#comment-218</guid>
		<description>Wah, saudaraku yang budiman juga. TIK belum banyak dimanfaatkan mungkin lantaran gurunya masih &quot;gaptek&quot;, hehehehe :D  Belum tahu caranya.
Tentang cerita legenda masyarakat lokal, wah, sayang sekali saya nggak punya arsipnya. Paling2 yang dimuat di tabloit anak. Itu pun jumlahnya tak seberapa.
Ok, trims kunjungannya, salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, saudaraku yang budiman juga. TIK belum banyak dimanfaatkan mungkin lantaran gurunya masih &#8220;gaptek&#8221;, hehehehe <img src='http://sawali.info/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' />  Belum tahu caranya.<br />
Tentang cerita legenda masyarakat lokal, wah, sayang sekali saya nggak punya arsipnya. Paling2 yang dimuat di tabloit anak. Itu pun jumlahnya tak seberapa.<br />
Ok, trims kunjungannya, salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: supardi</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/23/catatan-tercecer-dari-semiloka-nasional-peran-tik-dalam-revitalisasi-pembelajaran/comment-page-1/#comment-216</link>
		<dc:creator>supardi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2007 13:04:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=182#comment-216</guid>
		<description>Kepada Yth:
Pak Guru yang budiman

Mohon bantuan untuk dikirimi atau mungkin menginfakkan naskah kepada saya berkaitan dengan  penggunaan metode cerita legenda masyarakat lokal berkaitan dengan penanaman nilai-nilai luhur. Terima kasih atas bantuannya.

Salam hormat

dari teman baru &gt;lama</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Yth:<br />
Pak Guru yang budiman</p>
<p>Mohon bantuan untuk dikirimi atau mungkin menginfakkan naskah kepada saya berkaitan dengan  penggunaan metode cerita legenda masyarakat lokal berkaitan dengan penanaman nilai-nilai luhur. Terima kasih atas bantuannya.</p>
<p>Salam hormat</p>
<p>dari teman baru &gt;lama</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: supardi</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/23/catatan-tercecer-dari-semiloka-nasional-peran-tik-dalam-revitalisasi-pembelajaran/comment-page-1/#comment-217</link>
		<dc:creator>supardi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2007 13:00:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=182#comment-217</guid>
		<description>Komentar saya singkat
TIK sudah memasyarakat di dunia pendidikan. Tetapi hanya sebatas &quot;menulis, menghitung dan membaca&quot; belum dioptimalkan sebagai sentral pembelajaran. Mungkin masalah klasik yang mendasar . - biaya; - SDM dan kurang yang lain.. he....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Komentar saya singkat<br />
TIK sudah memasyarakat di dunia pendidikan. Tetapi hanya sebatas &#8220;menulis, menghitung dan membaca&#8221; belum dioptimalkan sebagai sentral pembelajaran. Mungkin masalah klasik yang mendasar . &#8211; biaya; &#8211; SDM dan kurang yang lain.. he&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mathematicse</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/23/catatan-tercecer-dari-semiloka-nasional-peran-tik-dalam-revitalisasi-pembelajaran/comment-page-1/#comment-215</link>
		<dc:creator>mathematicse</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2007 23:06:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=182#comment-215</guid>
		<description>Hahaha..., terimakasih, Pak, atas koment baliknya. Saya senang bisa berdiskusi + bertanya ke bapak, yang sudah berpengalaman ini. :D

-----------------------
Wah, Pak Al-Jupri senangnya terlalu berlebihan, lho. Biasa saja kok. Ok, trims kembali.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hahaha&#8230;, terimakasih, Pak, atas koment baliknya. Saya senang bisa berdiskusi + bertanya ke bapak, yang sudah berpengalaman ini. <img src='http://sawali.info/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Wah, Pak Al-Jupri senangnya terlalu berlebihan, lho. Biasa saja kok. Ok, trims kembali.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mathematicse</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/23/catatan-tercecer-dari-semiloka-nasional-peran-tik-dalam-revitalisasi-pembelajaran/comment-page-1/#comment-214</link>
		<dc:creator>mathematicse</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2007 10:18:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=182#comment-214</guid>
		<description>Andaikan semangat SNP itu dibarengi dengan kemampuan guru yang baik, saya yakin semangat itu akan tercapai. Tapi, karena guru-guru kita masih terbiasa dengan kondisi lama, tampaknya semangat ini masih jauh di atas awan. Agak sukar menggapainya.

Oh, iya. Tentang keadaan pembelajaran dengan kelas yang diam, dianggap berhasil oleh guru, ternyata terjadi di mana-man ya? Dulu, sewaktu saya SMP dan SMA, saya banyak bertanya, eh rupanya ada guru yang tak siap, jadinya saya engga enak sendiri. Pernah saya bertanya, untuk mengklarifikasi sesuatu, rupanya guru tidak tahu (saya dianggap menguji beliau, dipanggil, dan saya minta maaf). Duh, inget terus jadinya.

Bahkan sewaktu kuliah pun, ketika saya mengusulkan cara lain, alternatrif dalam menyelesaikan masalah, (ada) sang dosen rupanya tak siap, beliau masih konsisten dengan caranya, yang begitu-begitu saja. Alhasil saya diminta jangan banyak bicara, diam saja, jangan terlalu banyak komentar (untung yang kayak gini tidaklah banyak di PT).


Terus, mengenai paradigma di sekolah, secara teoritis, memang sistem berubah, tapi praktik di lapangan masih mewarisi jaman kuno (jadul  = jaman dulu). Ini sepertinya masih tersebar di mana-mana, di negeri kita. Sayang!
Oh, iya lagi. Mengenai penggunaan kata dalam bahasa Indonesia (boleh ya, Pak?)

Kelas = klas?
Bersikutat = berkutat =...?

Boleh lanjut koment ya, Pak?

Kenapa ya, biasanya semiloka itu bagi guru hanya sebatas untuk mendapat sertifikat. Saya sering mendengar celotehan &quot;di belakang&quot; pas acara beginian, katanya yang penting itu sertifikatnya, masalah materi dan sebagainya itu, tergantung kita (guru) di sekolah. Mendengar hal ini, saya cuma bisa senyum-senyum. Mengiyakan tidak, menidakkan juga belum berani (nanti salah-salah dianggap terlalu idealis).

Ya sudah, segitu saja komentarnya, mudah-mudahan tidak merepotkan bagi yang punya blog. (Alhamdulillah, unek-unek di pikiran saya, tertumpahkan lewat komentar ini). :D

----------------
1. Meskipun SNP dah lama diundangkan, banyak teman guru di Indonesia yang belum membacanya, apalagi memahaminya. Semangat untuk berubah pun tampaknya juga belum tumbuh. Akibatnya, situasi statusquo dan established masih sangat menjadi warna dominan dalam dunia persekolahan di negeri kita.

2. Itulah risikonya kalau guru tidak siap mengajar. Seringkali pertanyaan anak-anak yang kritis dianggap sedang mengetes atau menguji kemampuan sang guru. Tak aneh apabila murid-murid yang kritis di negeri kita makin lama makin berkurang akibat &quot;dibunuh&quot; oleh guru yang sering memosisikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar. Pak Al-Jupri pernah mengalaminya juga, kan? Betapa kuatnya memori seorang siswa ketika sedang mendapatkan perlakuan &quot;khusus&quot; dari sang guru.

3. Pemerintah pusat sebenarnya sudah melepaskan sebagian wewenangnya ke daerah melalui proses desentralisasi, termasuk otonomi daerah. Tapi, perubahan kultural ini yang butuh waktu amat lama. Banyak pejabat di daerah yang masih miskin inisiatif untuk melakukan perubahan dan masih saja bergantung pada petunjuk atasan.

4. Penggunaan kata &quot;kelas&quot; atau &quot;klas&quot; sama-sama benarnya, Pak. Hanya saja harus konsisten dalam sebuah teks (wacana). Kalau menggunakan kata &quot;klas&quot; sebaiknya dalam sebuah teks harus konsisten, demikian juga sebaliknya. &quot;Berkutat&quot; pun sama dengan &quot;bersikutat&quot;. Bedanya hanya pada nuansa makna yang ditumbulkannya. &quot;Bersikutat&quot; mengandung nuansa makna intensitas (menyangatkan) dan resiprokal (kesalingan).

5. Boleh, Pak. Saya sangat senang bisa sharing pengalaman dengan Pak Al-Jupri. Meski di Holland, Pak Al-Jupri nggak kehilangan identitas keindonesiaannya. Ramah dan santun :D.

6. Fenomena yang sering muncul dalam acara penataran, diklat, atau seminar, biasanya seperti itu, Pak. Hanya sebagian kecil saja yang serius untuk mengikuti kegiatan dengan baik. Itulah sebabnya, banyak orang yang mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan semacam itu hanya menghabiskan anggaran saja :D Tapi sebenarnya kegiatan semacam itu masih ada manfaatnya, terutama info2 baru yang berkaitan dengan tema yang diangkat.

Terima kasih, Pak. Mudah2an coment balik ini tidak memuaskan Bapak :D Kalau nggak puas, dengan sendirinya Bapak kan terus berupaya untuk terus melakukan pencarian :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Andaikan semangat SNP itu dibarengi dengan kemampuan guru yang baik, saya yakin semangat itu akan tercapai. Tapi, karena guru-guru kita masih terbiasa dengan kondisi lama, tampaknya semangat ini masih jauh di atas awan. Agak sukar menggapainya.</p>
<p>Oh, iya. Tentang keadaan pembelajaran dengan kelas yang diam, dianggap berhasil oleh guru, ternyata terjadi di mana-man ya? Dulu, sewaktu saya SMP dan SMA, saya banyak bertanya, eh rupanya ada guru yang tak siap, jadinya saya engga enak sendiri. Pernah saya bertanya, untuk mengklarifikasi sesuatu, rupanya guru tidak tahu (saya dianggap menguji beliau, dipanggil, dan saya minta maaf). Duh, inget terus jadinya.</p>
<p>Bahkan sewaktu kuliah pun, ketika saya mengusulkan cara lain, alternatrif dalam menyelesaikan masalah, (ada) sang dosen rupanya tak siap, beliau masih konsisten dengan caranya, yang begitu-begitu saja. Alhasil saya diminta jangan banyak bicara, diam saja, jangan terlalu banyak komentar (untung yang kayak gini tidaklah banyak di PT).</p>
<p>Terus, mengenai paradigma di sekolah, secara teoritis, memang sistem berubah, tapi praktik di lapangan masih mewarisi jaman kuno (jadul  = jaman dulu). Ini sepertinya masih tersebar di mana-mana, di negeri kita. Sayang!<br />
Oh, iya lagi. Mengenai penggunaan kata dalam bahasa Indonesia (boleh ya, Pak?)</p>
<p>Kelas = klas?<br />
Bersikutat = berkutat =&#8230;?</p>
<p>Boleh lanjut koment ya, Pak?</p>
<p>Kenapa ya, biasanya semiloka itu bagi guru hanya sebatas untuk mendapat sertifikat. Saya sering mendengar celotehan &#8220;di belakang&#8221; pas acara beginian, katanya yang penting itu sertifikatnya, masalah materi dan sebagainya itu, tergantung kita (guru) di sekolah. Mendengar hal ini, saya cuma bisa senyum-senyum. Mengiyakan tidak, menidakkan juga belum berani (nanti salah-salah dianggap terlalu idealis).</p>
<p>Ya sudah, segitu saja komentarnya, mudah-mudahan tidak merepotkan bagi yang punya blog. (Alhamdulillah, unek-unek di pikiran saya, tertumpahkan lewat komentar ini). <img src='http://sawali.info/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
1. Meskipun SNP dah lama diundangkan, banyak teman guru di Indonesia yang belum membacanya, apalagi memahaminya. Semangat untuk berubah pun tampaknya juga belum tumbuh. Akibatnya, situasi statusquo dan established masih sangat menjadi warna dominan dalam dunia persekolahan di negeri kita.</p>
<p>2. Itulah risikonya kalau guru tidak siap mengajar. Seringkali pertanyaan anak-anak yang kritis dianggap sedang mengetes atau menguji kemampuan sang guru. Tak aneh apabila murid-murid yang kritis di negeri kita makin lama makin berkurang akibat &#8220;dibunuh&#8221; oleh guru yang sering memosisikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar. Pak Al-Jupri pernah mengalaminya juga, kan? Betapa kuatnya memori seorang siswa ketika sedang mendapatkan perlakuan &#8220;khusus&#8221; dari sang guru.</p>
<p>3. Pemerintah pusat sebenarnya sudah melepaskan sebagian wewenangnya ke daerah melalui proses desentralisasi, termasuk otonomi daerah. Tapi, perubahan kultural ini yang butuh waktu amat lama. Banyak pejabat di daerah yang masih miskin inisiatif untuk melakukan perubahan dan masih saja bergantung pada petunjuk atasan.</p>
<p>4. Penggunaan kata &#8220;kelas&#8221; atau &#8220;klas&#8221; sama-sama benarnya, Pak. Hanya saja harus konsisten dalam sebuah teks (wacana). Kalau menggunakan kata &#8220;klas&#8221; sebaiknya dalam sebuah teks harus konsisten, demikian juga sebaliknya. &#8220;Berkutat&#8221; pun sama dengan &#8220;bersikutat&#8221;. Bedanya hanya pada nuansa makna yang ditumbulkannya. &#8220;Bersikutat&#8221; mengandung nuansa makna intensitas (menyangatkan) dan resiprokal (kesalingan).</p>
<p>5. Boleh, Pak. Saya sangat senang bisa sharing pengalaman dengan Pak Al-Jupri. Meski di Holland, Pak Al-Jupri nggak kehilangan identitas keindonesiaannya. Ramah dan santun <img src='http://sawali.info/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' />.</p>
<p>6. Fenomena yang sering muncul dalam acara penataran, diklat, atau seminar, biasanya seperti itu, Pak. Hanya sebagian kecil saja yang serius untuk mengikuti kegiatan dengan baik. Itulah sebabnya, banyak orang yang mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan semacam itu hanya menghabiskan anggaran saja <img src='http://sawali.info/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Tapi sebenarnya kegiatan semacam itu masih ada manfaatnya, terutama info2 baru yang berkaitan dengan tema yang diangkat.</p>
<p>Terima kasih, Pak. Mudah2an coment balik ini tidak memuaskan Bapak <img src='http://sawali.info/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Kalau nggak puas, dengan sendirinya Bapak kan terus berupaya untuk terus melakukan pencarian <img src='http://sawali.info/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hanna</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/23/catatan-tercecer-dari-semiloka-nasional-peran-tik-dalam-revitalisasi-pembelajaran/comment-page-1/#comment-213</link>
		<dc:creator>hanna</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Aug 2007 15:07:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=182#comment-213</guid>
		<description>Sarana dan prasarana untuk perkembangan TIK diperlukan,misalnya laboratorium khusus.
Tapi perlu diwaspadi juga penyakit Internet Addictive Disorder(IAD). Katanya nih,di negeri China kesulitan menanggulangi lajunya perkembangan penyakit ini.HE HE...

------------------------
Oh, ada memang penyakit IAD itu, ya, Mbak. Saya juga sering bertamu ke blog Mbak Hanna, lho. Sayangnya setiap mau bikin komentar loadingnya lama. Itu kelemahan di blogspot. Dulu aku pernah punya http://jalan-mendaki.blogspot.com/ tapi kini dah jarang kuurus :D
*Hanya bercanda lho, Mbak*</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sarana dan prasarana untuk perkembangan TIK diperlukan,misalnya laboratorium khusus.<br />
Tapi perlu diwaspadi juga penyakit Internet Addictive Disorder(IAD). Katanya nih,di negeri China kesulitan menanggulangi lajunya perkembangan penyakit ini.HE HE&#8230;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Oh, ada memang penyakit IAD itu, ya, Mbak. Saya juga sering bertamu ke blog Mbak Hanna, lho. Sayangnya setiap mau bikin komentar loadingnya lama. Itu kelemahan di blogspot. Dulu aku pernah punya <a href="http://jalan-mendaki.blogspot.com/" rel="nofollow">http://jalan-mendaki.blogspot.com/</a> tapi kini dah jarang kuurus <img src='http://sawali.info/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /><br />
*Hanya bercanda lho, Mbak*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
