<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Sastra dan Anomali Sosial Generasi Muda Masa Kini</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 14:10:33 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: agustina</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/comment-page-1/#comment-9388</link>
		<dc:creator>agustina</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2008 03:05:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=180#comment-9388</guid>
		<description>Astaghfirullohal'adzim....guru sma saya pernah bilang, kalau dunia i9ni semakin lama semakin bobrok,,mungkin ini salah satu buktinya. tapi bagaimanapun juga kita juga harus berusaha untuk tidak menambah masalah paling tidak untuk diri sendiri. dan saya setuju dengan kata2nya AA Gym, bahwa peran ibu sangat penting dalam upaya kesejahteraan bangsa.

&lt;blockquote&gt;
wah, makasih tambahan infonya, mbak agustina. salam dari Indonesia :roll: &lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Astaghfirullohal&#8217;adzim&#8230;.guru sma saya pernah bilang, kalau dunia i9ni semakin lama semakin bobrok,,mungkin ini salah satu buktinya. tapi bagaimanapun juga kita juga harus berusaha untuk tidak menambah masalah paling tidak untuk diri sendiri. dan saya setuju dengan kata2nya AA Gym, bahwa peran ibu sangat penting dalam upaya kesejahteraan bangsa.</p>
<blockquote><p>
wah, makasih tambahan infonya, mbak agustina. salam dari Indonesia <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: caplang™</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/comment-page-1/#comment-200</link>
		<dc:creator>caplang™</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Aug 2007 10:59:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=180#comment-200</guid>
		<description>kalo menurut saya sih, minat baca masyarakat Indonesia terutama anak-anak sekarang makin tinggi
cuman yg jadi masalah, apa yg mereka baca?
karya jk rowling ato putu wijaya?

bukannya ga boleh baca produk luar
tapi ada baiknya menjadi seimbang
nah di sini orang tua punya peran dlm mengawasi dan memberi suplemen bacaan yg seimbang untuk anaknya

saya sok tau yak :D

----------------
Setuju banget, Bung. Orang tua perlu sesekali melakukan kontrol terhadap bacaan sang anak. Jangan sampai mereka membaca buku2 "picisan" yang bisa menjerumuskan mereka untuk memanjakan nafsu dan selera rendahan, he3x. :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalo menurut saya sih, minat baca masyarakat Indonesia terutama anak-anak sekarang makin tinggi<br />
cuman yg jadi masalah, apa yg mereka baca?<br />
karya jk rowling ato putu wijaya?</p>
<p>bukannya ga boleh baca produk luar<br />
tapi ada baiknya menjadi seimbang<br />
nah di sini orang tua punya peran dlm mengawasi dan memberi suplemen bacaan yg seimbang untuk anaknya</p>
<p>saya sok tau yak <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Setuju banget, Bung. Orang tua perlu sesekali melakukan kontrol terhadap bacaan sang anak. Jangan sampai mereka membaca buku2 &#8220;picisan&#8221; yang bisa menjerumuskan mereka untuk memanjakan nafsu dan selera rendahan, he3x. <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: alex</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/comment-page-1/#comment-199</link>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Aug 2007 04:33:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=180#comment-199</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;
Ok, Bung Alex. URL-nya dah saya ganti. Makasih infonya. Kemarin malam saya dah lacak harian Aceh, sayang saya nggak menemukan tulisan saya. Apa memang saya yang gaptek, ya?
&lt;/blockquote&gt;

Memang tidak dimuat di situsnya, ataukah memang sudah dihapus, saya tidak tahu pasti. Tapi saya akan usahakan scan edisi cetaknya, sekalian dengan tanggal penerbitan. Seingat saya, sudah tiga kali terbitnya tulisan di sini di media tersebut.

Kita sama-sama penulis, Bung. Dan siapapun orangnya, saya agak keberatan pencomotan seenaknya, terlebih demi oplah atau tujuan komersil.
Oke, terimakasih atas kemaklumannya. Maaf, sudah merepotkan :)

---------------
Wah, makasih banget, Bung. Malah jadi merepotkan, nih. Salut buat Bung Alex, demi melakukan apologi sesama penulis rela melakukan apa saja. Sekali lagi, trims, Bung.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>
Ok, Bung Alex. URL-nya dah saya ganti. Makasih infonya. Kemarin malam saya dah lacak harian Aceh, sayang saya nggak menemukan tulisan saya. Apa memang saya yang gaptek, ya?
</p></blockquote>
<p>Memang tidak dimuat di situsnya, ataukah memang sudah dihapus, saya tidak tahu pasti. Tapi saya akan usahakan scan edisi cetaknya, sekalian dengan tanggal penerbitan. Seingat saya, sudah tiga kali terbitnya tulisan di sini di media tersebut.</p>
<p>Kita sama-sama penulis, Bung. Dan siapapun orangnya, saya agak keberatan pencomotan seenaknya, terlebih demi oplah atau tujuan komersil.<br />
Oke, terimakasih atas kemaklumannya. Maaf, sudah merepotkan <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Wah, makasih banget, Bung. Malah jadi merepotkan, nih. Salut buat Bung Alex, demi melakukan apologi sesama penulis rela melakukan apa saja. Sekali lagi, trims, Bung.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: alex</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/comment-page-1/#comment-198</link>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Aug 2007 02:44:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=180#comment-198</guid>
		<description>Out of topic.

Blog saya pindah. Yang kemarin ancur deh karena import2 xml-nya... :(

*mudah2an ndak dicap SPAM :P *

-------------------
Ok, Bung Alex. URL-nya dah saya ganti. Makasih infonya. Kemarin malam saya dah lacak harian Aceh, sayang saya nggak menemukan tulisan saya. Apa memang saya yang gaptek, ya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Out of topic.</p>
<p>Blog saya pindah. Yang kemarin ancur deh karena import2 xml-nya&#8230; <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /><br />
*mudah2an ndak dicap SPAM <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> *</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ok, Bung Alex. URL-nya dah saya ganti. Makasih infonya. Kemarin malam saya dah lacak harian Aceh, sayang saya nggak menemukan tulisan saya. Apa memang saya yang gaptek, ya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hanna</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/comment-page-1/#comment-197</link>
		<dc:creator>hanna</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 11:32:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=180#comment-197</guid>
		<description>Terima kasih  pak atas kunjungan dan komentarnya. Ralat dikit  tulisan itu postingan teman saya .ketika dia memberi komen diblog saya dengan memakai kata cina diprotes sama saya. Lalu lahirlah tulisan  itu.Bagi kami memang beda.Saya hanya penasaran apakah di dalam bahasa indonesia ada perbedaan di antara ke2nya.

---------------
Yang saya tahu nih, Mbak Hanna, berdasarkan kaidah penulisan unsur serapan, "Ch" yang lafalnya "c" penulisannya menjadi "c", sehingga kata "China" ditulis menjadi "Cina". Tapi, kan seperti yang dikatakan dalam psotingan Mbak Hanna, kaidah penulisan kan juga perlu mempertimbangkan unsur sosiokultural penutur bahasa yang bersangkutan. Ok, salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih  pak atas kunjungan dan komentarnya. Ralat dikit  tulisan itu postingan teman saya .ketika dia memberi komen diblog saya dengan memakai kata cina diprotes sama saya. Lalu lahirlah tulisan  itu.Bagi kami memang beda.Saya hanya penasaran apakah di dalam bahasa indonesia ada perbedaan di antara ke2nya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Yang saya tahu nih, Mbak Hanna, berdasarkan kaidah penulisan unsur serapan, &#8220;Ch&#8221; yang lafalnya &#8220;c&#8221; penulisannya menjadi &#8220;c&#8221;, sehingga kata &#8220;China&#8221; ditulis menjadi &#8220;Cina&#8221;. Tapi, kan seperti yang dikatakan dalam psotingan Mbak Hanna, kaidah penulisan kan juga perlu mempertimbangkan unsur sosiokultural penutur bahasa yang bersangkutan. Ok, salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: SQ</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/comment-page-1/#comment-196</link>
		<dc:creator>SQ</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 09:48:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=180#comment-196</guid>
		<description>saya setuju dengan beberapa pendapat di atas, karya sastra kita perlu di re 'cycle' atau dibuat lebih modern, contohnya kita perlu belajar lebih banyak dari bangsa jepang yang mampu mengolah sejarah mereka hingga diminati banyak masyarakat kita.

film-film seperti samurai X atau komik-komik 'mangga' sering menjadi favorit, tidak heran anak-anak jadi lebih tahu tentang musashi miyamoto, kisah tiga negara ataupun restorasi meiji, padahal itu bukan sejarah kita?

tapi tentu peneluran modifikasi belum cukup, perlu juga ditanamkan sifat bangga terhadap daerah dan bangsa sendiri, karena biar sebagus apapun bangsa kita memperjuangkan sastra sendiri, tidak akan ada gunanya bila kita tidak menghargai diri sendiri.

Siapa lagi yang menghargai bangsa ini kecuali bangsa kita sendiri, sama seperti daerah dan tulisan, sejelek apapun toh, tetap punya kita. Yang perlu diusahakan, adalah belajar bagaimana supaya lebih baik. Gimana pak ? maaf bila kebanyakan komen nya..he..he..he

---------------------
Betul and tepat sekali. Aku setuju itu. Thanks, ya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya setuju dengan beberapa pendapat di atas, karya sastra kita perlu di re &#8216;cycle&#8217; atau dibuat lebih modern, contohnya kita perlu belajar lebih banyak dari bangsa jepang yang mampu mengolah sejarah mereka hingga diminati banyak masyarakat kita.</p>
<p>film-film seperti samurai X atau komik-komik &#8216;mangga&#8217; sering menjadi favorit, tidak heran anak-anak jadi lebih tahu tentang musashi miyamoto, kisah tiga negara ataupun restorasi meiji, padahal itu bukan sejarah kita?</p>
<p>tapi tentu peneluran modifikasi belum cukup, perlu juga ditanamkan sifat bangga terhadap daerah dan bangsa sendiri, karena biar sebagus apapun bangsa kita memperjuangkan sastra sendiri, tidak akan ada gunanya bila kita tidak menghargai diri sendiri.</p>
<p>Siapa lagi yang menghargai bangsa ini kecuali bangsa kita sendiri, sama seperti daerah dan tulisan, sejelek apapun toh, tetap punya kita. Yang perlu diusahakan, adalah belajar bagaimana supaya lebih baik. Gimana pak ? maaf bila kebanyakan komen nya..he..he..he</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Betul and tepat sekali. Aku setuju itu. Thanks, ya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Majalah "Dewa Dewi"</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/comment-page-1/#comment-195</link>
		<dc:creator>Majalah "Dewa Dewi"</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 08:50:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=180#comment-195</guid>
		<description>Gejala ini akan berulang terus. Ini yang patut dicari penyebabnya.

----------------
Setuju banget. Dicari penyebabnya sekaligus solusinya. Ok, makasaih kunjugannnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gejala ini akan berulang terus. Ini yang patut dicari penyebabnya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Setuju banget. Dicari penyebabnya sekaligus solusinya. Ok, makasaih kunjugannnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hanna</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/comment-page-1/#comment-194</link>
		<dc:creator>hanna</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 08:37:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=180#comment-194</guid>
		<description>Itulah lemahnya bangsa kita,Suka ikut yang ngetrend lebih cenderung kebarat-baratan.Ga usah jauh-jauh deh, rambut aja sudah banyak yang berubah pirang tu, ha ha ha.
Kecanggihan teknolgi sangat berpengaruh dengan kebudayaan kita.Komputer, internet ,hp ,vcd ialah sarana yang mudah tuk mengakses pornografi.Jadi para remaja putri kita retan tercemari.Yang paling mengecewakan bila ada penulis yang ikut-ikutan menulis buku porno.Buku yang bisa membejatkan kawula remaja.

nb:Pak, saya lagi nulis tentang china dan cina.Berhubung bapak adalah guru bahasa indonesia dengan kerendahan hati saya ingin tau apa komentar bapak tentang ini.kira sudinya bapak baca sekilas diblog saya tentang yang ini.Trim's sebelumnya.

---------------------
Nah, memang begitulah! Ok, nanti saya kunjungi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Itulah lemahnya bangsa kita,Suka ikut yang ngetrend lebih cenderung kebarat-baratan.Ga usah jauh-jauh deh, rambut aja sudah banyak yang berubah pirang tu, ha ha ha.<br />
Kecanggihan teknolgi sangat berpengaruh dengan kebudayaan kita.Komputer, internet ,hp ,vcd ialah sarana yang mudah tuk mengakses pornografi.Jadi para remaja putri kita retan tercemari.Yang paling mengecewakan bila ada penulis yang ikut-ikutan menulis buku porno.Buku yang bisa membejatkan kawula remaja.</p>
<p>nb:Pak, saya lagi nulis tentang china dan cina.Berhubung bapak adalah guru bahasa indonesia dengan kerendahan hati saya ingin tau apa komentar bapak tentang ini.kira sudinya bapak baca sekilas diblog saya tentang yang ini.Trim&#8217;s sebelumnya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Nah, memang begitulah! Ok, nanti saya kunjungi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: atmo4th</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/comment-page-1/#comment-193</link>
		<dc:creator>atmo4th</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 07:07:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=180#comment-193</guid>
		<description>Sebenarnya kalau budaya kita bias dikemas dan digabungkan dalam sesuatu hal yang baru, kita bisa kembali membangkitkan minat pemuda terhadap hal-hal yang dianggap kuno "gatotkaca dll."..

Misalnya aja film Troy, itu sudah terjadi lamaa banget, tapi waktu dikemas dalam bentuk yang modern, sejarah pun menjadi menarik.

Kalau kita bisa mengemas misalnya perang diponegoro, dengan kisah heroiknya dalam suatu film yang mendidik, kan siswa SMA [ misalnya ] akan lebih tertarik mempelajari sejarah..

Kalo masalah keperawanan, *no comment

------------------------
Setuju banget, Bung. Memang perlu ada pembaharuan dan modifikasi seni dan budaya klasik kita. Perlu ada kemasan yang modern dan menarik sehingga budaya klasik kita bisa lebih dekat dan diakrabi oleh generasi muda kita. Jika tak ada pembaharuan dan modifikasi agaknya budaya kita akan makin terpinggirkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya kalau budaya kita bias dikemas dan digabungkan dalam sesuatu hal yang baru, kita bisa kembali membangkitkan minat pemuda terhadap hal-hal yang dianggap kuno &#8220;gatotkaca dll.&#8221;..</p>
<p>Misalnya aja film Troy, itu sudah terjadi lamaa banget, tapi waktu dikemas dalam bentuk yang modern, sejarah pun menjadi menarik.</p>
<p>Kalau kita bisa mengemas misalnya perang diponegoro, dengan kisah heroiknya dalam suatu film yang mendidik, kan siswa SMA [ misalnya ] akan lebih tertarik mempelajari sejarah..</p>
<p>Kalo masalah keperawanan, *no comment</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Setuju banget, Bung. Memang perlu ada pembaharuan dan modifikasi seni dan budaya klasik kita. Perlu ada kemasan yang modern dan menarik sehingga budaya klasik kita bisa lebih dekat dan diakrabi oleh generasi muda kita. Jika tak ada pembaharuan dan modifikasi agaknya budaya kita akan makin terpinggirkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yari NK</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/comment-page-1/#comment-192</link>
		<dc:creator>Yari NK</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 00:04:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=180#comment-192</guid>
		<description>Saya mau tanya nih Pak! Sebenarnya ada nggak sih, apakah budaya pop selalu identik dengan sesuatu yang dari 'luar'? Apakah kita sendiri tidak bisa menciptakan seusatu yang 'pop' yang bersumber dari 'khayalan' kita sendiri.
Masalahnya begini Pak, sekarang kan udah zamannya laser, komputer, satelit dsb., kalau generasi muda kita, misalnya, hanya mengenal gatotkaca, terus arjuna dsb., yang hanya terus-terusan memakai panah, apakah tidak mematikan daya imajinasi dan daya kreativitas generasi muda? Bukan berarti warisan nenek moyang kita itu tidak baik, bukan begitu maksud saya pak. Hanya saja memang kita sebagai manusia yang kreatif tentu memerlukan sesuatu yang baru yang berguna untuk perkembangan kebudayaan kita juga. Tetapi memang saya akui, bahwa budaya pop kita memang hanya meniru dan kurang kreativitas dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat kita. Jadinya ya begitu! sedikit &lt;i&gt;norak&lt;/i&gt;! :D
Bukan begitu, pak?

--------------------------
Ok, Bung Yari, setuju banget. Persoalannya, budaya pop ini sangat erat kaitannya dengan tingkat apresiasi masyarakat kita terhadap budaya kita sendiri. Menjamurnya budaya pop menunjukkan bahwa apresiasi masyarakat kita, khususnya generasi muda, terhadap budaya "adiluhung" memang sangat kurang. Untuk mendekatkan apresiasi generasi muda terhadap budaya sendiri saya kira bisa kita "kawin"-kan dengan budaya pop. Jadi, tak perlu lagi dikotomi antara budaya pop dan budaya "adiluhung".</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mau tanya nih Pak! Sebenarnya ada nggak sih, apakah budaya pop selalu identik dengan sesuatu yang dari &#8216;luar&#8217;? Apakah kita sendiri tidak bisa menciptakan seusatu yang &#8216;pop&#8217; yang bersumber dari &#8216;khayalan&#8217; kita sendiri.<br />
Masalahnya begini Pak, sekarang kan udah zamannya laser, komputer, satelit dsb., kalau generasi muda kita, misalnya, hanya mengenal gatotkaca, terus arjuna dsb., yang hanya terus-terusan memakai panah, apakah tidak mematikan daya imajinasi dan daya kreativitas generasi muda? Bukan berarti warisan nenek moyang kita itu tidak baik, bukan begitu maksud saya pak. Hanya saja memang kita sebagai manusia yang kreatif tentu memerlukan sesuatu yang baru yang berguna untuk perkembangan kebudayaan kita juga. Tetapi memang saya akui, bahwa budaya pop kita memang hanya meniru dan kurang kreativitas dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat kita. Jadinya ya begitu! sedikit <i>norak</i>! <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> Bukan begitu, pak?</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Ok, Bung Yari, setuju banget. Persoalannya, budaya pop ini sangat erat kaitannya dengan tingkat apresiasi masyarakat kita terhadap budaya kita sendiri. Menjamurnya budaya pop menunjukkan bahwa apresiasi masyarakat kita, khususnya generasi muda, terhadap budaya &#8220;adiluhung&#8221; memang sangat kurang. Untuk mendekatkan apresiasi generasi muda terhadap budaya sendiri saya kira bisa kita &#8220;kawin&#8221;-kan dengan budaya pop. Jadi, tak perlu lagi dikotomi antara budaya pop dan budaya &#8220;adiluhung&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
