<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Nasionalisme Kita Telah &#8220;Mati Suri&#8221;?</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 04:48:26 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Yung Mau Lim</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/comment-page-1/#comment-139</link>
		<dc:creator>Yung Mau Lim</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Aug 2007 06:57:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=162#comment-139</guid>
		<description>Sebenarnya arti yang pas untuk nasionalisme itu tidak pernah ada. Jadi bagi saya makna nasionalisme itu tidak perlu sampai memusingkan kepala kita.Kita tidak dapat mengclaim bahwa "Saya" adalah nasionalisme sejati sedangkan "anda" belum.Dengan mata saya yang kebetulan juga sipit, dan kemudian dihadiahi Tuhan Yang Maha Murah Hati sebuah negeri yang elok yang diberi nama Indonesia kepada saya dan 220 juta saudara saya yang warna kulit dan bentuk matanya macam2 maka sudah sepantasnya saya bersyukur dan selalu ada rasa tanggungjawab untuk ikut partisipasi membuat negeri ini lebih baik walau dengan usaha sekecil apapun juga.Tuhan ingin mempersatukan kita dalam sebuah negara NKRI,Tuhan ingin kita hidup berdampingan sebagai saudara,Tuhan ingin kita membangun negeri tercinta ini. Tuhan ingin kita merawat,memelihara dan membesarkan Indonesia suatu hari kelak. Walaupun saya sering dihambat untuk membuat Kartu Rumah Tangga dan KTP,tapi saya tak peduli.Saya sadar hidup penuh lika liku,sayapun tahu itu hanya tingkah segelintir oknum yang tidak perlu sampai memaksa saya memeriksa dan mempertanyakan warna kulit dan bentuk mata saya kembali,apakah saya bangsa Indoensia.Yang saya inginkan adalah Indonesiaku yang Kuat,superior dan makmur.

----------------------------
Setuju banget. Nasionalisme tidak membedakan warna kulit, suku, agama, ras, atau kelompok tertentu. Dus, siapa pun yang bangga dengan negerinya sendiri sehingga tidak merasa inferior dan rendah diri sebagai sebuah bangsa, di situlah nasionalisme akan muncul. Nasionalisme kita terusik manakala bangsa dan negeri kita dijelek-jelekkan oleh orang asing atau oleh orang Indonesia sendiri yang tega ngemplang duit rakyat milyaran hingga trilyunan rupiah. Jadi, menurut saya, nasionalisme tak ada dalam jiwa para koruptor itu. Ok, salut buat Anda yang bangga sebagai warga dan bangsa Indonesia. Semoga banyak penghuni negeri ini yang punya sikap seperti Anda. Merdeka!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya arti yang pas untuk nasionalisme itu tidak pernah ada. Jadi bagi saya makna nasionalisme itu tidak perlu sampai memusingkan kepala kita.Kita tidak dapat mengclaim bahwa &#8220;Saya&#8221; adalah nasionalisme sejati sedangkan &#8220;anda&#8221; belum.Dengan mata saya yang kebetulan juga sipit, dan kemudian dihadiahi Tuhan Yang Maha Murah Hati sebuah negeri yang elok yang diberi nama Indonesia kepada saya dan 220 juta saudara saya yang warna kulit dan bentuk matanya macam2 maka sudah sepantasnya saya bersyukur dan selalu ada rasa tanggungjawab untuk ikut partisipasi membuat negeri ini lebih baik walau dengan usaha sekecil apapun juga.Tuhan ingin mempersatukan kita dalam sebuah negara NKRI,Tuhan ingin kita hidup berdampingan sebagai saudara,Tuhan ingin kita membangun negeri tercinta ini. Tuhan ingin kita merawat,memelihara dan membesarkan Indonesia suatu hari kelak. Walaupun saya sering dihambat untuk membuat Kartu Rumah Tangga dan KTP,tapi saya tak peduli.Saya sadar hidup penuh lika liku,sayapun tahu itu hanya tingkah segelintir oknum yang tidak perlu sampai memaksa saya memeriksa dan mempertanyakan warna kulit dan bentuk mata saya kembali,apakah saya bangsa Indoensia.Yang saya inginkan adalah Indonesiaku yang Kuat,superior dan makmur.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Setuju banget. Nasionalisme tidak membedakan warna kulit, suku, agama, ras, atau kelompok tertentu. Dus, siapa pun yang bangga dengan negerinya sendiri sehingga tidak merasa inferior dan rendah diri sebagai sebuah bangsa, di situlah nasionalisme akan muncul. Nasionalisme kita terusik manakala bangsa dan negeri kita dijelek-jelekkan oleh orang asing atau oleh orang Indonesia sendiri yang tega ngemplang duit rakyat milyaran hingga trilyunan rupiah. Jadi, menurut saya, nasionalisme tak ada dalam jiwa para koruptor itu. Ok, salut buat Anda yang bangga sebagai warga dan bangsa Indonesia. Semoga banyak penghuni negeri ini yang punya sikap seperti Anda. Merdeka!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hanna</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/comment-page-1/#comment-138</link>
		<dc:creator>hanna</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Aug 2007 14:32:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=162#comment-138</guid>
		<description>Terima kasih bapak-bapak.Alangkah indahnya dunia ini bila kita semua dapat berbaur satu jiwa,satu rasa.Bahu membahu,saling berbagi kasih.Tapi sepertinya jaman sudah berubah manjadi lo lo , gua gua.Sungguh menyedihkan ya...

------------------
Itulah harapan kita semua Mbak Hanna, bisa hidup rukun dan damai tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, atau warna kulit. Oh, ya, Mbak Hanna, komentar Mbak Hanna di blog ini mendapatkan respon yang bagus dari para pengunjung. Intinya sama. Menaruh empati, semoga kejadian buruk yang pernah terjadi tak akan terulang kembali.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih bapak-bapak.Alangkah indahnya dunia ini bila kita semua dapat berbaur satu jiwa,satu rasa.Bahu membahu,saling berbagi kasih.Tapi sepertinya jaman sudah berubah manjadi lo lo , gua gua.Sungguh menyedihkan ya&#8230;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Itulah harapan kita semua Mbak Hanna, bisa hidup rukun dan damai tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, atau warna kulit. Oh, ya, Mbak Hanna, komentar Mbak Hanna di blog ini mendapatkan respon yang bagus dari para pengunjung. Intinya sama. Menaruh empati, semoga kejadian buruk yang pernah terjadi tak akan terulang kembali.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yari NK</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/comment-page-1/#comment-137</link>
		<dc:creator>Yari NK</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 01:15:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=162#comment-137</guid>
		<description>Saya sungguh merasa prihatin dengan apa yang dituliskan mbak hanna. Memang betul masalah diskriminasi ini adalah masalah pelik yang seharusnya dihilangkan dari negeri ini bahkan di dunia ini. Diskriminasi memang terjadi di mana2 bukan saja terjadi di negeri ini. Jika mbak Hanna berlangganan televisi kabel dan kebetulan pernah menonton acara ArirangTV, televisi Korea berbahasa Inggris, maka mbak akan mengetahui bagaimana orang2 keturunan Korea di Jepang masih dilihat sebelah mata. Dan jikalau mbak sempat menonton acara National Geographic, di sana juga pernah digambarkan bagaimana orang2 minoritas Uygur dan Kyrgyz di China bagian barat, "dipaksa" untuk menghilangkan identitas mereka dan melebur untuk menjadi orang "China". Dan juga masih dalam acara di stasiun TV National Geographic, di situ juga pernah digambarkan bagaimana orang2 keturunan China sendiri yang lahir dan besar di luar negeri yang tidak bisa berbahasa Mandarin diperlakukan diskriminatif dan 'dilecehkan' oleh masyarakat Hongkong. Dan masih banyak contoh lainnya mengenai diskriminasi global yang berlaku di berbagai belahan bumi. Perasaan diskriminasi memang selalu ada dalam setiap hati manusia, namun sebagai seseorang yang intelektual kita harus bisa mengendalikan atau bahkan jikalau bisa melenyapkannya, sehingga penilaian terhadap seseorang yang 'berbeda' dari kita dapat lebih obyektif lagi.
Mari kita hilangkan segala bentuk diskriminasi!

-------------
Setuju banget Pak Yari. Jika perlu harus ada gerakan massal antidiskriminasi sedunia sehingga WNI keturunan seperti &lt;a href="http://sisca79.blogspot.com/" rel="nofollow"&gt;Mbak Hanna&lt;/a&gt; bisa menemukan hakikat hidup yang sesungguhnya; egaliter dan penuh persaudaraan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sungguh merasa prihatin dengan apa yang dituliskan mbak hanna. Memang betul masalah diskriminasi ini adalah masalah pelik yang seharusnya dihilangkan dari negeri ini bahkan di dunia ini. Diskriminasi memang terjadi di mana2 bukan saja terjadi di negeri ini. Jika mbak Hanna berlangganan televisi kabel dan kebetulan pernah menonton acara ArirangTV, televisi Korea berbahasa Inggris, maka mbak akan mengetahui bagaimana orang2 keturunan Korea di Jepang masih dilihat sebelah mata. Dan jikalau mbak sempat menonton acara National Geographic, di sana juga pernah digambarkan bagaimana orang2 minoritas Uygur dan Kyrgyz di China bagian barat, &#8220;dipaksa&#8221; untuk menghilangkan identitas mereka dan melebur untuk menjadi orang &#8220;China&#8221;. Dan juga masih dalam acara di stasiun TV National Geographic, di situ juga pernah digambarkan bagaimana orang2 keturunan China sendiri yang lahir dan besar di luar negeri yang tidak bisa berbahasa Mandarin diperlakukan diskriminatif dan &#8216;dilecehkan&#8217; oleh masyarakat Hongkong. Dan masih banyak contoh lainnya mengenai diskriminasi global yang berlaku di berbagai belahan bumi. Perasaan diskriminasi memang selalu ada dalam setiap hati manusia, namun sebagai seseorang yang intelektual kita harus bisa mengendalikan atau bahkan jikalau bisa melenyapkannya, sehingga penilaian terhadap seseorang yang &#8216;berbeda&#8217; dari kita dapat lebih obyektif lagi.<br />
Mari kita hilangkan segala bentuk diskriminasi!</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Setuju banget Pak Yari. Jika perlu harus ada gerakan massal antidiskriminasi sedunia sehingga WNI keturunan seperti <a href="http://sisca79.blogspot.com/" rel="nofollow">Mbak Hanna</a> bisa menemukan hakikat hidup yang sesungguhnya; egaliter dan penuh persaudaraan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mathematicse</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/comment-page-1/#comment-136</link>
		<dc:creator>mathematicse</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 20:02:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=162#comment-136</guid>
		<description>Terimakasih Pak Sawali atas penjelasan kata-katanya. Nambah kosa kata baru nih... :D

Oh iya, mengenai kata "telanjur", kenapa banyak yang menggunakan "terlanjur". Yang baik dan benar itu kata "telanjur kan Pak?

Terus, mengenai diksi (saya sering dapat masukan dari beberapa orang bahwa tulisan saya katanya perlu divariasikan diksinya). Tapi anehnya paada saat saya tanya diksi itu apa, mereka tak mau menjelaskan. Sekarang saya jadi tahu deh diksi itu apa. Terimakasih lagi ya Pak.... :D

----------------
Itu yang saya herankan. Memang nggak tahu atau nggak mau taat asas terhadap kaidah bahasa Indonesia, atau kebanggaan terhadap bahasa nasional sendiri mulai luntur? Nggak gampang Pak, ya, njawabnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terimakasih Pak Sawali atas penjelasan kata-katanya. Nambah kosa kata baru nih&#8230; <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Oh iya, mengenai kata &#8220;telanjur&#8221;, kenapa banyak yang menggunakan &#8220;terlanjur&#8221;. Yang baik dan benar itu kata &#8220;telanjur kan Pak?</p>
<p>Terus, mengenai diksi (saya sering dapat masukan dari beberapa orang bahwa tulisan saya katanya perlu divariasikan diksinya). Tapi anehnya paada saat saya tanya diksi itu apa, mereka tak mau menjelaskan. Sekarang saya jadi tahu deh diksi itu apa. Terimakasih lagi ya Pak&#8230;. <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Itu yang saya herankan. Memang nggak tahu atau nggak mau taat asas terhadap kaidah bahasa Indonesia, atau kebanggaan terhadap bahasa nasional sendiri mulai luntur? Nggak gampang Pak, ya, njawabnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hanna</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/comment-page-1/#comment-135</link>
		<dc:creator>hanna</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 16:42:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=162#comment-135</guid>
		<description>Membaca tulisan ini saya hanya bisa bersedih.Nasionalisme ??

Aku dilahirkan dibumi pertiwi
Nafasku,ragaku, jiwaku terbentuk dinegeri ini

Masih terkenang masa sekolah
Setiap senin berdiri didepan Sana saka
Diiringi lagu Indonesia raya

Kini aku dewasa
Berbaur dan berkarya tuk negeri tercinta

Tapi sekonyong-konyong badai datang menerpa
Kami dikejar,Dijarah bahkan mau dicabut nyawanya

Aku terkejut dan kecewa
Ada apa sebenarnya

Salahkah bila aku terlahir bermata sipit dan berkulit putih
Mengapa aku tidak diterima dinegeri sendiri ?

Sekali lagi maaf pak.Saya menulis apa yang ada dihati dan otak saya.Saya hanya ingin mengatakan, "Indonesia tanah airku,bangsaku,tumpah darahku dan saya mencintai negeri ini".Sekali lagi saya mohon maaf bila byk kata yang salah.Merdeka !

---------------
Indonesia adalah sebuah negeri multikultur. Siapa pun dia, dari mana dia berasal, warna kulitnya apa, agamanya apa, sukunya apa, dan apa-apa yang lain, selama berdarah "Merah-Putih", dia akan mendapatkan "syurga" di bumi bernama Indonesia. Saya ikut berempati. Semoga di negeri ini Mbak Hanna kembali menemukan kedamaian itu. Bukankah zaman akan senantiasa menjanjikan sebuah perubahan?
---------------</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca tulisan ini saya hanya bisa bersedih.Nasionalisme ??</p>
<p>Aku dilahirkan dibumi pertiwi<br />
Nafasku,ragaku, jiwaku terbentuk dinegeri ini</p>
<p>Masih terkenang masa sekolah<br />
Setiap senin berdiri didepan Sana saka<br />
Diiringi lagu Indonesia raya</p>
<p>Kini aku dewasa<br />
Berbaur dan berkarya tuk negeri tercinta</p>
<p>Tapi sekonyong-konyong badai datang menerpa<br />
Kami dikejar,Dijarah bahkan mau dicabut nyawanya</p>
<p>Aku terkejut dan kecewa<br />
Ada apa sebenarnya</p>
<p>Salahkah bila aku terlahir bermata sipit dan berkulit putih<br />
Mengapa aku tidak diterima dinegeri sendiri ?</p>
<p>Sekali lagi maaf pak.Saya menulis apa yang ada dihati dan otak saya.Saya hanya ingin mengatakan, &#8220;Indonesia tanah airku,bangsaku,tumpah darahku dan saya mencintai negeri ini&#8221;.Sekali lagi saya mohon maaf bila byk kata yang salah.Merdeka !</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Indonesia adalah sebuah negeri multikultur. Siapa pun dia, dari mana dia berasal, warna kulitnya apa, agamanya apa, sukunya apa, dan apa-apa yang lain, selama berdarah &#8220;Merah-Putih&#8221;, dia akan mendapatkan &#8220;syurga&#8221; di bumi bernama Indonesia. Saya ikut berempati. Semoga di negeri ini Mbak Hanna kembali menemukan kedamaian itu. Bukankah zaman akan senantiasa menjanjikan sebuah perubahan?<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yari NK</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/comment-page-1/#comment-134</link>
		<dc:creator>Yari NK</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 13:19:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=162#comment-134</guid>
		<description>O iya lupa! Bagi mereka yang sekolah di luar negeri... ehemm. ehem.... jangan lupa untuk pulang lagi ke tanah air ya! Jangan keenakan tinggal di sana, apalagi kalau sudah dapet pekerjaan bagus! Huehehehe....  :D

-----------------------
Wah, imbauan simpatik dari Bung Yari layak diapresiasi. Termasuk bentuk nasionalisme-kah? He3x.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>O iya lupa! Bagi mereka yang sekolah di luar negeri&#8230; ehemm. ehem&#8230;. jangan lupa untuk pulang lagi ke tanah air ya! Jangan keenakan tinggal di sana, apalagi kalau sudah dapet pekerjaan bagus! Huehehehe&#8230;.  <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Wah, imbauan simpatik dari Bung Yari layak diapresiasi. Termasuk bentuk nasionalisme-kah? He3x.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yari NK</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/comment-page-1/#comment-133</link>
		<dc:creator>Yari NK</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 13:12:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=162#comment-133</guid>
		<description>Saya tidak tahu bagaimana konkritnya bentuk nasionalisme itu. Kadang-kadang nasionalisme hanya ditransformasikan dalam bentuk yang sempit seperti: Menyanyikan lagu kebangsaan, rajin apel, menggunakan bahasa asing sesedikit mungkin, tidak menghambur2kan uangnya di luar negeri, menggunakan produk dalam negeri dan sebagainya. Saya mempunyai banyak teman yang kalau bicara selalu dicampur bahasa Inggris, sering keluar negeri untuk &lt;i&gt;shopping&lt;/i&gt;, tidak pernah hafal lagu2 nasional selain Indonesia Raya, dsb. Namun saya sangat terharu ketika mereka menolak tawaran kerja di Amerika Serikat dengan gaji hampir 10x lipat lebih besar dengan alasan :"Amerika Serikat tidak membutuhkan saya, namun negeri ini masih sangat butuh tenaga-tenaga kerja seperti saya". Dan hebatnya mereka tak pernah memaksa orang lain untuk berbuat serupa. Nasionalisme adalah sesuatu yang datang dari hati nurani, bukan sesuatu yang harus dipaksakan karena hasilnya selalu tidak akan baik. Dan nasionalisme kita baru teruji manakala kita menghadapi situasi yang dilematis yang jauh lebih bermakna dibandingkan hanya himbauan verbal.

-----------
Tepat sekali, Bung. Agaknya memang perlu ada penafsiran ulang terhadap makna nasionalisme itu sendiri. Toh kalau kita lihat berdasarkan kondisi riil dalam kehidupan masyarakat kita saat ini, banyak orang yang gencar mengembar-gemborkan makna nasionalisme melalui mimbar-mimbar terhormat. Namun, justru apresiasi dan aplikasi nilai nasionalisme mereka dinilai tidak lebih baik daripada seorang pedagang asongan yang tiba-tiba berhenti dan tidak tega menyaksikan seorang anak kecil menangis kelaparan. &lt;a href="http://alexvolution.wordpress.com/" rel="nofollow"&gt;Bung Alex&lt;/a&gt; pun berkomentar bahwa musuh utama nasionalisme adalah kemiskinan dan kebodohan, sedangkan Bung &lt;a href="http://erander.wordpress.com/" rel="nofollow"&gt;Erander &lt;/a&gt; berpendapat bahwa 210 juta rakyat Indonesia perlu menciptakan rasa kebersamaan agar semangat nasionalisme dapat bangkit kembali, jangan sampai ada anekdot, apakah Indonesia harus di bom / di serang musuh dulu, baru rasa nasionalisme muncul. Nah, agaknya nilai-nilai nasionalisme akan melahirkan tafsir-tafsir baru sesuai dengan dinamika zamannya, termasuk sikap kolega Bung yang menolak bekerja di AS meski dengan gaji yang jauh lebih besar daripada di negeri sendiri. Bisa dimaknai sebagai "neo-nasionalisme"-kah, meski terbata-bata ketika diminta untuk menyanyikan lagu-lagu wajib?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tidak tahu bagaimana konkritnya bentuk nasionalisme itu. Kadang-kadang nasionalisme hanya ditransformasikan dalam bentuk yang sempit seperti: Menyanyikan lagu kebangsaan, rajin apel, menggunakan bahasa asing sesedikit mungkin, tidak menghambur2kan uangnya di luar negeri, menggunakan produk dalam negeri dan sebagainya. Saya mempunyai banyak teman yang kalau bicara selalu dicampur bahasa Inggris, sering keluar negeri untuk <i>shopping</i>, tidak pernah hafal lagu2 nasional selain Indonesia Raya, dsb. Namun saya sangat terharu ketika mereka menolak tawaran kerja di Amerika Serikat dengan gaji hampir 10x lipat lebih besar dengan alasan :&#8221;Amerika Serikat tidak membutuhkan saya, namun negeri ini masih sangat butuh tenaga-tenaga kerja seperti saya&#8221;. Dan hebatnya mereka tak pernah memaksa orang lain untuk berbuat serupa. Nasionalisme adalah sesuatu yang datang dari hati nurani, bukan sesuatu yang harus dipaksakan karena hasilnya selalu tidak akan baik. Dan nasionalisme kita baru teruji manakala kita menghadapi situasi yang dilematis yang jauh lebih bermakna dibandingkan hanya himbauan verbal.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Tepat sekali, Bung. Agaknya memang perlu ada penafsiran ulang terhadap makna nasionalisme itu sendiri. Toh kalau kita lihat berdasarkan kondisi riil dalam kehidupan masyarakat kita saat ini, banyak orang yang gencar mengembar-gemborkan makna nasionalisme melalui mimbar-mimbar terhormat. Namun, justru apresiasi dan aplikasi nilai nasionalisme mereka dinilai tidak lebih baik daripada seorang pedagang asongan yang tiba-tiba berhenti dan tidak tega menyaksikan seorang anak kecil menangis kelaparan. <a href="http://alexvolution.wordpress.com/" rel="nofollow">Bung Alex</a> pun berkomentar bahwa musuh utama nasionalisme adalah kemiskinan dan kebodohan, sedangkan Bung <a href="http://erander.wordpress.com/" rel="nofollow">Erander </a> berpendapat bahwa 210 juta rakyat Indonesia perlu menciptakan rasa kebersamaan agar semangat nasionalisme dapat bangkit kembali, jangan sampai ada anekdot, apakah Indonesia harus di bom / di serang musuh dulu, baru rasa nasionalisme muncul. Nah, agaknya nilai-nilai nasionalisme akan melahirkan tafsir-tafsir baru sesuai dengan dinamika zamannya, termasuk sikap kolega Bung yang menolak bekerja di AS meski dengan gaji yang jauh lebih besar daripada di negeri sendiri. Bisa dimaknai sebagai &#8220;neo-nasionalisme&#8221;-kah, meski terbata-bata ketika diminta untuk menyanyikan lagu-lagu wajib?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: alex</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/comment-page-1/#comment-132</link>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 10:31:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=162#comment-132</guid>
		<description>@ erander

Anekdot itu (kalau pun ada) ada benarnya. Tidak harus diserang atau dibom, namun yang diperlukan adalah adanya sejenis PUBLIC ENEMY.

Dan itu tidak harus sebuah negara atau sebuah organisasi. Kalau saya pribadi lebih menganggap yang harusnya jadi musuh bersama itu ya kemiskinan dan kebodohan. Itu yang mestinya pemerintah ajarkan pada rakyatnya.

Yang aneh justru sekarang. Public enemy cuma muncul sesekali, itu pun lebih seperti pengalihan isu belaka. Lebih konyol lagi, para pemimpinnnya malah "saling memusuhi" sampai rakyat bengong akhirnya muak...

---------------
Makin menarik nih, makna dan nilai nasionalisme pada HUT ke-62 RI ini. Fenomena yang muncul di atas panggung sosial, politik, ekonomi, dan budaya kita memang makin rumit dan kompleks. Pada satu sisi, kemiskinan dan kebodohan jelas menjadi salah satu public enemy yang mesti diperangi. Namun, pada sisi yang lain, ancaman eksistensi Indonesia dari luar juga tidak bisa disepelekan. Tapi saya juga setuju dengan komentar Pak &lt;a href="http://alexvolution.wordpress.com/" rel="nofollow"&gt;Alex&lt;/a&gt;, yang lebih diprioritaskan adalah musuh masyarakat  yang nyata-nyata telah membikin ribuan dan jutaan rakyat hidup menderita akibat kebijakan yang salah urus dari pengendali negara. Kemiskinan, kebodohan, pengangguran, benar-benar telah membuat banyak anak bangsa negeri ini putus asa. Semoga saja tantangan internal dan eksternal itu bisa dicarikan solusi terbaik buat bangsa dan negara yang dihuni sekitar 220 juta jiwa. Merdeka. Untuk &lt;a href="http://erander.wordpress.com/" rel="nofollow"&gt;Pak Erander&lt;/a&gt;, mungkin berkenan untuk bersambung rasa dengan Pak Alex?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ erander</p>
<p>Anekdot itu (kalau pun ada) ada benarnya. Tidak harus diserang atau dibom, namun yang diperlukan adalah adanya sejenis PUBLIC ENEMY.</p>
<p>Dan itu tidak harus sebuah negara atau sebuah organisasi. Kalau saya pribadi lebih menganggap yang harusnya jadi musuh bersama itu ya kemiskinan dan kebodohan. Itu yang mestinya pemerintah ajarkan pada rakyatnya.</p>
<p>Yang aneh justru sekarang. Public enemy cuma muncul sesekali, itu pun lebih seperti pengalihan isu belaka. Lebih konyol lagi, para pemimpinnnya malah &#8220;saling memusuhi&#8221; sampai rakyat bengong akhirnya muak&#8230;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Makin menarik nih, makna dan nilai nasionalisme pada HUT ke-62 RI ini. Fenomena yang muncul di atas panggung sosial, politik, ekonomi, dan budaya kita memang makin rumit dan kompleks. Pada satu sisi, kemiskinan dan kebodohan jelas menjadi salah satu public enemy yang mesti diperangi. Namun, pada sisi yang lain, ancaman eksistensi Indonesia dari luar juga tidak bisa disepelekan. Tapi saya juga setuju dengan komentar Pak <a href="http://alexvolution.wordpress.com/" rel="nofollow">Alex</a>, yang lebih diprioritaskan adalah musuh masyarakat  yang nyata-nyata telah membikin ribuan dan jutaan rakyat hidup menderita akibat kebijakan yang salah urus dari pengendali negara. Kemiskinan, kebodohan, pengangguran, benar-benar telah membuat banyak anak bangsa negeri ini putus asa. Semoga saja tantangan internal dan eksternal itu bisa dicarikan solusi terbaik buat bangsa dan negara yang dihuni sekitar 220 juta jiwa. Merdeka. Untuk <a href="http://erander.wordpress.com/" rel="nofollow">Pak Erander</a>, mungkin berkenan untuk bersambung rasa dengan Pak Alex?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: erander</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/comment-page-1/#comment-131</link>
		<dc:creator>erander</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 09:35:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=162#comment-131</guid>
		<description>Gpp pak .. yang penting bagaimana sekarang kita memikirkan untuk menciptakan rasa kebersamaan agar semangat nasionalisme dapat bangkit kembali. Tidak saja hanya bapak dan saya, tapi 210 juta rakyat Indonesia juga harus berbuat sama. Jangan sampai ada anekdot, apakah Indonesia harus di bom / di serang musuh dulu, baru rasa nasionalisme muncul. Audzubillahiminzaliq ya pak.

-------------
Ma kasih banget, Pak, dah berkenan mampir lagi dan bikin komentar lagi. Setuju, Pak. Pilar-pilar nasionalisme memang harus selalu kokoh dalam situasi dan kondisi apa pun. Biar anak-anak cucu kita kelak juga mampu menyaksikan betapa kakek-neneknya telah memberikan teladan tentang makna nasionalisme yang hakiki. Merdeka!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gpp pak .. yang penting bagaimana sekarang kita memikirkan untuk menciptakan rasa kebersamaan agar semangat nasionalisme dapat bangkit kembali. Tidak saja hanya bapak dan saya, tapi 210 juta rakyat Indonesia juga harus berbuat sama. Jangan sampai ada anekdot, apakah Indonesia harus di bom / di serang musuh dulu, baru rasa nasionalisme muncul. Audzubillahiminzaliq ya pak.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ma kasih banget, Pak, dah berkenan mampir lagi dan bikin komentar lagi. Setuju, Pak. Pilar-pilar nasionalisme memang harus selalu kokoh dalam situasi dan kondisi apa pun. Biar anak-anak cucu kita kelak juga mampu menyaksikan betapa kakek-neneknya telah memberikan teladan tentang makna nasionalisme yang hakiki. Merdeka!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mathematicse</title>
		<link>http://sawali.info/2007/08/08/nasionalisme-kita-telah-mati-suri/comment-page-1/#comment-130</link>
		<dc:creator>mathematicse</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 09:34:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=162#comment-130</guid>
		<description>Memang banyak orang-orang Indonesia yang nasionalismenya sudah memudar. Kurang PD dengan kemampuan negeri sendiri. Tak percaya dengan keadaan negerinya (makanya mereke dengan enaknya memarkir uang di negeri orang, cari aman).

Btw, saya banyak mendapat kata-kata "baru" (sebenarnya dulu sewaktu belajar bahasa Indonesia udah pernah, tapi lupa karena jarang dipake, belajar cuma karena hafalan buat ulangan di sekolah). Contohnya: galib, apa lacur, centang-perenang, persada (saya jadi malu karena lupa, masih nasionaliskah saya?)

-------------------
He3... galib = umum, lazim; apa lacur = sudah telanjur; centang perenang = porak-poranda, kacau-balau, persada = bumi pertiwi
Dalam wacana Bahasa Indonesia, penggunaan ungkapan (idiom) semacam itu sering disebut diksi (pilihan kata). "Cailah, kayak pakar bahasa saja, he3x".</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memang banyak orang-orang Indonesia yang nasionalismenya sudah memudar. Kurang PD dengan kemampuan negeri sendiri. Tak percaya dengan keadaan negerinya (makanya mereke dengan enaknya memarkir uang di negeri orang, cari aman).</p>
<p>Btw, saya banyak mendapat kata-kata &#8220;baru&#8221; (sebenarnya dulu sewaktu belajar bahasa Indonesia udah pernah, tapi lupa karena jarang dipake, belajar cuma karena hafalan buat ulangan di sekolah). Contohnya: galib, apa lacur, centang-perenang, persada (saya jadi malu karena lupa, masih nasionaliskah saya?)</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
He3&#8230; galib = umum, lazim; apa lacur = sudah telanjur; centang perenang = porak-poranda, kacau-balau, persada = bumi pertiwi<br />
Dalam wacana Bahasa Indonesia, penggunaan ungkapan (idiom) semacam itu sering disebut diksi (pilihan kata). &#8220;Cailah, kayak pakar bahasa saja, he3x&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
