12Jul 2007 No Comments274 pembaca
Ancaman
Cerpen Sawali Tuhusetya
Jam di tembok ruang tamu menunjuk angka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki –entah dari mana datangnya—sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyorot liar. Daraha Minranti mendesir. Ia letakkan koran yang barusan dibacanya ke atas meja.
“Selamat pagi, Nyonya!” sapa lelaki itu tersenyum. Tampak deretan giginya yang kotor. Mulutnya seperti menyemburkan hawa busuk. Miranti tergagap. Tenggorokannya tercekat seperti ada beban yang menyumbatnya. Napasnya sesak. Dadanya naik-turun.
Miranti tercenung. Siapa tahu lelaki yang berdiri di depan pintu itu seorang mata-mata perampok atau bahkan seorang perampok yang nekad ingin menjarah rumahnya. Siapa dapat menjamin kalau lelaki itu orang baik-baik? Siapa pula dapat menebak gelagat yang menyembul di





