Home » Sastra » Jika Penyair Menjadi Seorang Narcisus

Jika Penyair Menjadi Seorang Narcisus

TAMPAKNYA, Nurdien H. Kistanto benar-benar “berang” atas serangan kritik yang ditujukan kepada kumpulan pusinya Sajak Orang-Orang Desaku (SOOD). “Keberangan” Nurdien bisa dimaklumi lantaran sebagai penyair, ia butuh legitimasi, butuh dipahami cara dia berkesnian. Bukan caci-maki, apalagi hujatan yang menafikan nilai-nilai keberadaan manusiawi dalam memahami proses kretivitasnya.

Bermula dari diskusi dalam acara “Nurdien Kembali” (17/7/1996) di aula Fakultas Sastra Undip, Bambang Suparanoto, seorang penyair yang didaulat sebagai pembicara, mulai membedah puisi-puisi Nurdien yang terkumpul dalam SOOD, setelah Nurdien usai membaca. Dengan vokal khasnya yang kalem, namun menukik tajam, Bambang menilai bahwa puisi-puisi Nurdien telah kehilangan metafora. Diksinya terlalu verbal, sehingga tidak memberikan kemungkinan-kemungkinan penafsiran (multitafsir) yang menjadi “ruh” puisi. Akibatnya, ungkap Bambang, penikmat terindoktrinasi dengan gaya ucap yang demikian lugas.

Memahami penilaian Bambang yang demikian “keras”, pada akhir diskusi, Nurdien tidak berkenan. Penyair yang juga antropolog ini menilai bahwa Bambang sangat subjektif dan emosional dalam menganalisis puisi-puisinya. Miskin teori, bombastis, dan pengetahuan Bambang, lanjut Nurdien, hanya sebatas metafora.

Objektivitas
Dari peristiwa tersebut, paling tidak ada dua substansi yang layak dicatat. Pertama, penyair menjadi “alergi” tcrhadap penilaian dan kritik yang kasar, keras, dan tidak manusiawi, sebab telah dianggap sebagai ulah pelecehan dan penghinaan yang tidak beradab, yang tidak ada upaya penghargaan dan legitimasi seorang penyair dalam berkesenian.

Kedua, pengamat (kritikus) cenderung menggunakan “kacamata” personal, sehingga tingkat objektivitas dan akseptabilitasnya diragukan. Apalagi pengamat tersebut sama-sama penyair. Akibatnya, karya orang lain terkesan “dipaksakan” untuk memenuhl selera estetik dan gaya ucap pribadinya. Imbasnya, kritik puisi yang esensinya diharapkan dapat menjembatani kepentingan kreator dengan publik menjadi nihil. Masing-masing bersikukuh untuk memegangi kebenaran visi dan persepsinya, tanpa ada upaya untuk memahami dan menghargai bagaimana orang lain nerproses kreatif dalam pergulatan seni dan budaya.

Tampaknya, fenomena ini membenarkan jargon klasik bahwa penyair cenderung menjadi seorang narcisus dalam memahami eksistensi penyair lain. Artinya, seorang penyair cenderung berpretensi bahwa karyanya sendirilah yang layak memperoleh nilai plus.
Penghakiman Bambang terhadap SOOD, jelas menunjukkan kecenderungan ke arah itu. Bambang terlalu bernafsu menggunakan “kunci” kepenyairjnnya dalam membuka “pintu” kepenyairan Nurdien. Bukan hal yang mokal jika wilayah kepenyairan Nurdien yang dianggap sakral terinjak-injak.

Menilai puisi, ternyata bukan perkara gampang. Membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan ketelitian. Puisi tidak cukup dipahami secara leksikal, tetapi harus menukik hingga ke substansi eksternal yang mewarnai worldview dan visi penyairnya dalam memandang kehidupan. Menilai SOOD, misalnya, menjelajahi kehidupan pribadi Nurdien, lingkungan masyarakatnya, filsafat yang dianutnya, dan segala bentuk keterlibatan Nurdien dalam kapasitasnya sebagai antropolog jclas menjadi keniscayaan. Dengan kata lain, puisi tak cukup dinilai berdasarkan keliaran estetika yang mengharu biru sanubari, tanpa memahami muatan nilai moral, keilmuan, agama, filsafat, dan semacamnya yang tersirat di dalamnya. Dengan demikiaii, “patos” puisi yang menawarkan renungan, makna kearifan hidup, kejujuran, dan nilai-nilai purba ideal lainnya bisa tereguk dalam upaya menyiasati kehidupan yang semakin sarat rangsangan hedonis dan makin terpuruknya sifat-sifat puritan ini.

Bagaimanapun, objektivitas penilaian terhadap bentuk sastra apa pun harus tetap terjaga. Kritik harus tetap sanggup menawarkan rangsangan positif agar kreator semakin total dan intens dalam menggeluti dunianya sekaligus mempersubur khazanah batin publik dalam mengapresiasi sastra. Hal ini perlu dicatat, sebab para kreator selama ini masih “alergi” terhadap bentuk-bentuk penghakiman yang cenderung mematikan kreativitas sehingga tak lagi memandang kritik sebagai jembatan menuju pergulatan seni dan budaya yang lebih bermartabai, penuh sentuhan manusiawi.

HB Jassin
Tampaknya sastra kita sangat membutuhkan kehadiran H.B. Jassin lain yang begitu suntuk dan concern menggeluti dunia kritik sastra tanpa berprpretensai untuk menjadi seorang kreator. Kritik sastra akan kehilangan kesejatiannya manakala sang kritikus sudah memasuki wilayah “sastra kreatif”, sebab kecenderungan untuk menjadi seorang narcisus sulit terelakkan. Penilaiannya menjadi menjadi sangat subjektif.

Meskipun demikian, seorang kreator tidak harus mcngalami stagnasi dan kevakuman kreasi ketika memperoleh hujatan. Justru harus dimaknai sebagai “vaksinasi” yang mampu mengebalkan jiwa dari segala bentuk pesimisme dan inferior. Dan bagi para penggagas dan penggeber agenda diskusi sastra mestinya tak asal comot memilih pcmbicara. Pertimbangan kapabilitas dan kedalaman wawasan sastranya, tak boleh dianggap remeh. Hal ini untuk menjaga agar luncuran-luncuran opininya tetap independen, lentur, dan akseptabel. Substansinya, agenda diskusi tak lagi menjadi ajang arogansi dan penelanjangan kreativitas. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Jika Penyair Menjadi Seorang Narcisus" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (28 Juli 2007 @ 13:04) pada kategori Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 1 komentar dalam “Jika Penyair Menjadi Seorang Narcisus

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *