Home | Archives for July, 2007

Menggugat Ujian Nasional yang Antirealitas

(15 July 2007, 501 pembaca, 4 respon)

Menggugat Ujian Nasional yang AntirealitasNegeri kita sudah kenyang pengalaman menyelenggarakan Ujian Nasional (UN). Bertubi-tubi pula masukan dan kritik dari banyak kalangan dilontarkan. Banyak kalangan menilai, UN selama ini hanya menjadi ritual tahunan yang menjenuhkan; boros beaya, bikin guru stres, kondisi kelas sarat ketegangan, murid-murid pun hanya menjadi penghafal kelas wahid yang “buta” terhadap persoalan sosial, kemanusiaan, dan kebangsaan yang mencuat... 

Perubahan Kurikulum dan Martabat Bangsa

(15 July 2007, 2,077 pembaca, 5 respon)

Perubahan Kurikulum dan Martabat BangsaSebagai anak bangsa, kita merasa sedih ketika menyaksikan saudara-saudara kita yang mengadu nasib di negeri orang sebagai TKW harus menjadi korban kekerasan –baik fisik maupun nonfisik. Nasionalisme kita terusik. Sudah merdeka 61 tahun lamanya, tetapi bangsa ini belum juga mampu memberikan penghidupan yang layak bagi warganya. Yang lebih menyedihkan, bangsa kita telanjur mendapatkan stigma sebagai negeri “penjual” tenaga... 

Perubahan Kurikulum di Tengah Mitos Globalisasi

(15 July 2007, 7,523 pembaca, 17 respon)

Perubahan Kurikulum di Tengah Mitos GlobalisasiDunia pendidikan kita sudah berkali-kali mengalami perubahan kurikulum. Setidaknya sudah enam kali perubahan kurikulum tercatat dalam sejarah, yakni Kurikulum 1962, 1968, 1975, 1984, 1994, dan KBK. Namun, apa dampaknya terhadap kemajuan peradaban bangsa? Sudahkah pendidikan di negeri ini mampu melahirkan anak-anak bangsa yang visioner; yang mampu membawa bangsa ini berdiri sejajar dan terhormat dengan negara lain di kancah global?... 

Kesusastraan Jawa Tengah Miskin Pemberontakan?

(15 July 2007, 221 pembaca, 1 respon)

Kesusastraan Jawa Tengah Miskin Pemberontakan?BUDI Darma pernah bilang jika Anda belum dikenal sebagai sastrawan, cobalah memberontak. Katakan sastra hasil karya pengarang kita belum berbobot. Kutiplah keterangan dari pengarang dunia kaleber kakap. Atau, tulislah sebuah puisi yang nyentrik. Tentu Anda akan menjadi terkenal mendadak (1983:72). Paling tidak, ada dua kandungan tafsir yang tersirat di balik pernyataan pengarang novel Olenka itu. Pertama, sebagai “pasemon”... 
Tags:

Jika Cerpen Dicemari Limbah Politik

(15 July 2007, 178 pembaca, 1 respon)

Jika Cerpen Dicemari Limbah PolitikSuara Merdeka edisi Minggu (18/2/2001) memuat cerpen berjudul “Dialog Kambing di Pasar Hewan” (DKPH) karya T. Atmawidjaja. Cerpen itu betutur tentang sekelompok kambing dengan beragam karakter di sebuah pasar hewan yang riuh. Dalam bahasa kambing yang sulit dipahami manusia, mereka (baca: para kambing) berdialog tentang nasib teman mereka yang disembelih, dijadikan tumbal akibat kebiadaban massa di Kendal beberapa waktu lalu.... 

Romantika, Logika, dan Religiusitas

(15 July 2007, 208 pembaca, 0 respon)

Romantika, Logika, dan ReligiusitasNurdien H Kistanto, Sajak-sajak Orang Desaku, IKIN dan Penerbit Undip, Semarang 1996, V+45 halaman. PROF. A. Teeuw pernah mengatakan puisi tak akan pernah tercipta dalam suasana kosong. Artinya, puisi akan senantiasa diwarnai oleh visi, persepsi, dan obsesi penyairnya dalam memandang kehidupan. Penyair bebas memilih gaya pengucapan sesuai dengan kepekaan intuitifnya. Oleh karena itu, meskipun objekmya sama jika ditulis penyair... 
Tags:

Jika Penyair Menjadi Seorang Narcisus

(15 July 2007, 52 pembaca, 0 respon)

Jika Penyair Menjadi Seorang NarcisusTAMPAKNYA, Nurdien H. Kistanto benar-benar “berang” atas serangan kritik yang ditujukan kepada kumpulan pusinya Sajak Orang-Orang Desaku (SOOD). “Keberangan” Nurdien bisa dimaklumi lantaran sebagai penyair, ia butuh legitimasi, butuh dipahami cara dia berkesnian. Bukan caci-maki, apalagi hujatan yang menafikan nilai-nilai keberadaan manusiawi dalam memahami proses kretivitasnya. Bermula dari diskusi dalam... 
Tags:

Tak Harus Bilang “Brengsek”

(15 July 2007, 193 pembaca, 3 respon)

Tak Harus Bilang “Brengsek”(Catatan untuk Kusprihyanto Namma) Tulisan Kusprihyanto Namma di Suara Merdeka (21 April 1989) berjudul “Penerbitan Puisi, Sekadar Dokumentasi) menarik disimak. Menurut pewmahaman saya, minimal ada dua hal yang ingin digarisbwahinya. Pertama, sajak yang termuat di koran (sajak koran) terpola oleh selera media massa cetak sehingga penyair terjebak dalam sikap hipokrit (kepura-puraan). Denagn demikian, sajak bukan hasil penjelajahan... 
Tags:

Karya Sastra yang Baik Tak Lepas dari Dimensi Hidup

(15 July 2007, 3,189 pembaca, 3 respon)

Karya Sastra yang Baik Tak Lepas dari Dimensi HidupSebuah artikel yang cukup menggelitik disajikan oleh Suara Merdeka Minggu, 15 Oktober 1989 dengan judul “Kritik Sosial dalam Sdastra”. Menurut pemahaman saya, dalam artikel itu ada tiga hal yang ingin digarisbawahi oleh penulis artikel tersebut. Pertama, karya sastra yang mengandung amanat, tendens, bersifat edukatif, dan memberi nasihat kepada pembaca kurang proporsional dan berlebih-lebihan. Kedua, sasatrawan tidak perlu... 
Tags:

Dimensi Sosial dalam Sastra

(15 July 2007, 587 pembaca, 0 respon)

Dimensi Sosial dalam SastraSudah terlalu sering memang dimensi sosial dalam sastra ini diangkat ke permukaan sekaligus menjadi sebuah pembicaraan yang hangat. Namun, seperti dapat ditebak bahwa persoalannya justru kian kabur lantaran telah merembet ke berbagai ranah kreativitas para sastrawan sesuai dengan persepsi yang dikukuhinya. Para sastrawan makin getol mempertahankan visi personalnya masing-masing. Munculnya dua kubu sastrawan Indonesia merupakan... 
Tags:
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (69 queries: 0.873 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP